Mahesa bukan seorang mahasiswa, namun sangat memantau perkembangan dunia, melalui telepon genggamnya atau terkadang koran-koran yang dijual Pak Mandra, sopir bis yang berakal aktivis, tentu saja terkadang Pak Mandra menjadi teman diskusi Mahesa, tidak di ruang rapat apalagi gedung, namun warung kopi.