a letter from a lover
Ahli politik menganggap kematian adalah kehancuran jabatan, bagi yang demokrasi mungkin tenang, namun bagi yang monarki, kiamat pribadi jika ia detik-detik sakaratul maut ia tak punya keturunan. Hartawan gelagapan ketika Izrail mengetuk pintu raga nya, dingin terasa olehnya berpikir tentang adakah yang mencuri brangkasnya. Lalu, yang agamis, mereka merasa kematian bukanlah kesedihan, bonsai kecil yang mereka tanam sedari belajar agama sudah menjadi beringin yang meneduhkan. Sisanya tinggal si miskin, yang hidup tak mampu, mati belum tiba waktu, menjadi beban dari si kaya dan senjata politik bagi yang bisa.
Aku, sedari kecil diajari Ayahku untuk mendalami agama, tapi Ayahku lupa kita hidup di dunia, karena belajar agama terlalu dalam, aku pun tenggelam di dalamnya, terkadang lupa kalau aku tidak lihai berenang, akhirnya aku keluar dari lautan agama, untuk mencari dunia, keluar darinya, mendekati politik aku ditipu, mendekati jutawan aku dihina dan menjadi miskin sepertinya sangat nyaman.
Pernah melihat tukang ojeg di pangkalan?
Mereka masih bisa tertawa bahagia ditemani papan catur, secangkir kopi dan di bibirnya sedang ada rokok bertengger. Ia di pangkalan sedari pagi hingga malam, mulutnya tertawa tapi hatinya berpikir, anak istriku makan apa ya nanti di rumah, ah nanti juga ada, jawab hati kecilnya.
Ironi, hati kecilnya didengar oleh si waktu,
dan waktu tidak memberikan "nanti" untuknya.
Tanpa tukang ojeg itu sadari, ia mentertawakan kematian.
Patah Hati
"hey, kalian nanti harus melanjutkan tahtaku, pimpin rakyat dengan adil dan jangan mementingkan diri sendiri?" Sahut Sang Raja kepada kedua putranya, Dipo dan Ojin.
"adil itu caranya bagaimana, Pak?" tanya Dipo.
"misal kamu punya makanan, jangan kamu makan sendirian, berbagilah, apalagi kalau makanannya kamu suka, itu adalah hal terbaik, berbagi hal yang disukai" jawab Sang Raja
lalu Dipo bertanya lagi "kita harus berbagi hal yang kita suka?"
"iya" Jawab Sang Raja.
"kalau kita suka kepada seorang cewek, berarti kita harus ngasih cewek itu ke orang lain, dong, Pak?" Dipo menjawab.
lalu Dipo dikeplak Ojin.
Sang Raja pun memberi perintah untuk mereka berpetualang ke negara lain, agar mereka mengerti rasanya hidup menjadi orang biasa, tanpa harta orang tua.
Ojin protes "bagaimana kalau kami mati disana, Pak?"
"pertanyaan bagus, Ojin" sahut Pak Raja.
"boleh gak Ojin saya keplak aja, Pak?" tanya Dipo
"jangan, soalnya pertanyaannya bagus"
"kok saya tadi dikeplak boleh?"
"iya, soalnya pertanyaan kamu gila"
lalu Dipo dan Ojin tertawa.
"untuk menjawab pertanyaan kamu, bapak harus menjelaskan, bahwa bapak tidak hidup abadi, bapak juga akan mati"
terlihat Dipo matanya sedikit berkaca-kaca.
"karena itu, bapak ingin kalian berdua siap secara kedewasaan, ketika bapak hidup ataupun ketika bapak sudah dibawah bumi"
"hah? bapak ngapain dibawah bumi?" tanya Dipo.
"itu artinya dikubur, Dipo!" jawab Ojin "Pak, boleh ngga dia dikeplak?"
"jangan deh, kasian" sahut Sang Raja
"nah, karena bapak tidak selamanya hidup, kalian harus bisa hidup tanpa bapak" lanjut Sang Raja "kalian harus berkelana, mencari, berpikir dan praktek sendiri, karena dunia tidak akan menerima orang lemah"
"lemah? kan kita anak raja, masa lemah sih!" Ojin, menyombong.
"nah ini boleh dikeplak" jawab Raja.
Plak!
suara Dipo membalas dendam seraya tertawa.
"kamu pikir hidup di istana artinya kita tidak akan mati?"
Dipo dan Ojin pun menggelengkan kepala.
"kamu pilih aja.." lalu Raja melanjutkan "mati dalam keadaan berjuang di perantauan atau mati dalam keadaan pecundang dalam kenyamanan"
"kok pecundang dalam kenyamanan, Pak?" tanya Ojin.
"iya, kan yang jadi raja itu bapak, bukan kalian"
"tapi kan kita anak raja, pak, masa sih kita akan sengsara?" tanya Ojin, lagi.
"hey, kalian pikir manusia di dunia tidak akan sedih dan sengsara?"
mereka menggelengkan kepala.
"hahaha, kalian salah, manusia baru lahir saja sudah menangis, itu artinya sedih kan?"
Dipo pun menangis sejadi-jadinya.
"tapi kenapa kita harus pergi jauh, Pak?" Dipo bertanya sambil tersedu.
"supaya kalian jadi kucing kampung, bukan kucing rumahan" jawab Sang Raja.
"maksudnya?" mereka bertanya, berbarengan.
"kucing kampung makan apapun tetap bisa hidup biarpun dari tempat sampah, bertarung juga siap, daya tahan tubuhnya kuat, sementara kucing rumahan, bagaimana?" tanya Sang Raja
"Eee... dia makanannnya disediakan manusia, Pak" jawab Dipo
"benar Dipo"
"terus apa masalahnya kalau dia makanannya disediakan manusia?" tanya Ojin
"kalau manusianya mati, bagaimana, apa kucing rumahan bisa hidup tanpanya?"
"kalau bapak mati bagaimana, apa kalian bisa hidup tanpa bapak?"
"bapak akan merasa sangat patah hati jika mati meninggalkan anak-anak bapak yang belum siap ditinggal pergi"
lalu mereka bertiga menangis bersama.
kesimpulan; merantau, hidup di istana memang enak, dihormati, tapi kalau raja mati apakah kamu masih dihormati?
hahaha, kalian salah, manusia baru lahir saja sudah menangis, itu artinya sedih kan?"
Pernah?
Aku Adalah Ojin, boleh aku bertanya? Kau pernah berbohong? Aku pernah. Bahkan, mungkin sering. Bila kau tanyakan kepada siapa aku pernah berbohong? Aku tak bisa mengingatnya lagi. Ingatan kita selalu pendek soal kealpaan, bukan? Dan, kapankah aku pertama kali berbohong? Aku juga tak ingat kapan persisnya, tetapi itu kulakukan pada ibuku, di suatu sore yang membuat dadaku berdebar dan tubuhku gemetar.
lbu melarangku bermain di sawah. Sejujurnya, dengan alasan yang tak bisa kuterima dan tak sepenuhnya kumengerti. Tapi, teman-temanku semuanya rnain di sawah; memburu layang-layang atau petak umpet menyusuri rerumputan hijau. Aku teguh pada apa yang dipesankan Ibu, tetapi pilihan itu adalah pilihan yang menyulitkan.
"Ah, payah" kata Dipo mengejek.
"Tapi, Ibu melarangku bermain di sana"
"Ayolah, ibumu nggak akan tahu, Ojin?" Ajak temanku, Dipo
Ya, Ibu memang tak akan tahu sekalipun aku menyelinap keluar untuk bermain lumpur di sawah. Ibu tak pernah ke mana-mana selain di rumah. Maka, kuputuskan untuk melampaui "batas" yang Ibu buat untukku. Diam-diam, aku menyelinap keluar, dan memandang sawah yang terbentang. Seorang teman menarik lenganku, "Ayo kita mencuri tomat!" kata Dipo.
Mencuri? Aku baru saja melakukan kesalahan pertama, haruskan kesalahan kedua segera menyusul?
Rupanya, memang begitu. Sekali pintu kesalahan terbuka, pintu lainnya begitu menggoda. "Aku tak ingin mcncuri tomat!" ucapku dan setengah berlari mengikuti Dipo si pencuri tomat. "Ayolah, sekali saja," katanya sambil terus berlari, menyuguhkan senyum mengejek di ujung bibirnya—seperti seseorang yang berkata, kau laki-laki pengecut!, lalu, dengan dada yang berdebar, aku pun mencuri tomat.
Aku berlari menembus sawah, berkali-kali aku mencuri tomat. Dan, kini kami harus pulang melewati batas senja karena kami ketahuan oleh paman penjaga petak tomat—Pak Ranjau, ketika sedang berusaha mencuri tomat: kami harus menghadapi sidang susila di depan gubuk paman penjaga tomat!
"Oh, jadi kalian yang suka mencuri tomat!?" bentak Pak Ranjau pada kami. Dadaku berdebar hebat. Andai saja bisa kuakali waktu, aku ingin menolak ajakan Dipo untuk melanggar pesan Ibu. Andai saja bisa kusogok waktu menggunakan uang.
"Bukan, bukan, Paman. Kami bukan pencuri. Kami hanya mengambil tomat-tomat yang busuk untuk bermain perang tomat." Salah seorang temanku, bernama Gadis, membela diri.
"Ah, alasan!" Pak Ranjau emosi "Aku akan melaporkan kalian kepada orangtua kalian masing-masing!"Lalu aku melihat Dipo, Gadis dan dua teman lainnya matanya berkaca-kaca menahan air mata.
Deg! Tiba-tiba, aku sesak nafas, menahan air mata yang seperti akan tumpah dari kelopak.
Aku tak mau melukai perasaan ibuku. Aku tak mau ayahku malu. Ah, andai saja bisa kuakali waktu. Aku menycsal, sedalam-dalamnya. Ah, tetapi penyesalan hanya akan datang belakangan, yang datang duluan hanyalah perkenalan. Dan, sekarang, aku sedang menyesal.
Setelah berjanji tak akan mencuri tomat lagi, kami dilepaskan dengan sebuah ancaman; kalau sekali lagi ketahuan mencuri tomat, paman penjaga petak tomat tak akan segan melaporkan kami pada orangtua kami.
Menjelang azan Isya, kami baru pulang ke rumah masing-masing. Dan, Ibu marah padaku.
"Kamu ke mana saja?" tanya lbu.
"Main, Bu," jawabku agak lesu.
"Main dari mana jam segini baru pulang?"
"Eh... mmm... dari rumah Gadis." Tiba-tiba, aku mendapati diriku menjadi pembohong hebat. Ah, dadaku kembali berdebar tak karuan. Aku bohong Iagi pada Ibu.
"Kenapa pulangnya malam hegini?"
"Eh... mmm... ya main aja. Keasyikan. Aku mau mandi, ya, Bu?"
"Ya." Jawab Ibu, singkat.
Sejak itu, aku jadi terhiasa berbohong. Bahkan, aku tak ingat soal apa saja kebohongan yang pernah kulakukan. Misalnya, sewaktu kelas 3 SD, aku berbohong ketika ibu guru bertanya siapa yang pernah bertamasya ke Jakarta. Semua teman sekelasku mengacungkan tangan. Kecuali aku. Dengan terlambat, aku mengacungkan tangan. Mungkin kebohongan semacam itu dosanya sedikit. Semua murid mengacungkan tangan waktu itu, dan aku tak tahu siapa yang sama berbohong sepertiku?
Tapi, rupanya kebohongan tak akan membiarkan kita lolos begitu saja. "Dipo, ke Jakartanya ke mana?" tanya ibu guru. Ah, aku tak mungkin menjawab tidak tahu, kan? Aku ingat pernah menonton konten youtube soal Taman Impian Jaya Ancol. "Ke Ancol, Bu!" jawabku.
"Wah, aku juga pernah ke sana!" sahut Gadis. "Kamu naik Bianglala, kan?"
"Iya, dong!" jawabku yang semakin mantap berbohong.
"Asyik, ya?" Tanya Gadis.
"Iya"
Ah, kebohongan-kebohongan itu semakin tak bisa kulepaskan dari diriku. Sejak itu, aku jadi tahu, kebohongan yang kecil sekalipun, meski sudah didiskon karena kita melakukannya untuk menjaga perasaan orang lain—atau perasaan kita sendiri tetap bisa jadi besar kerena jumlahnya yang banyak. Kebohongan tak bisa dihentikan. Aku tahu itu setelah aku dan Gadis selesai mengobrol panjang soal Jakarta dan Taman Impian Jaya Ancol yang hanya kulihat di youtube itu.
Kali ini, aku berbohong. Kebohongan yang kecil, sebenarnya. Tetapi, kusadari merupakan bagian lain yang tersambung dengan kebohongan pertamaku dulu. Aku kecewa karena kali ini dadaku sudah tak berdebar lagi ketika berbohong. Apakah aku sudah menjadi pembohong hebat—yang bahkan tak akan terdeteksi oleh mesin pelacak kebohongan karena tak ada debar yang istimewa?
Aku tak tahu. Aku hanya kehilangan debar itu. Debar yang membuatku tak bisa tidur semalaman dan memaksaku berjanji tak akan berbohong lagi.
Kau pernah berbohong? Aku sering. Bila kau tanyakan kepada siapa aku pernah berbohong? Aku tak bisa mengingatnya lagi. Ingatan kita selalu pendek soal kesalahan-kesalahan, bukan? Dan, kapankah aku pertama kali berbohong? Aku juga tak ingat kapan persisnya, tetapi itu kulakukan pada ibuku, di suatu sore yang membuat dadaku berdebar dan tubuhku gemetar. Seperti sudah kuceritakan kepadamu.
Bila kau pernah berbohong, pernahkah kau dibohongi? Ah, rasanya kita tak bisa lepas dari kebohongan-kebohongan. Kau bahkan tak tahu bahwa sejak tadi aku membohongimu dengan cerita soal masa laluku, bukan? Apa kau juga pura-pura membaca cerita-ceritaku?
Aku juga tak tahu. Akhirnya, hanya jujur yang membuat hidup ini tenang
the constellation of moving on
well, i just did but it just a dream
the dream that makes you feel like, you will lose hope, but when you wake up, you know that hope is still alive, but what if he died when you aren't ready yet?
will people give you respect you deserve? or jobs you wanted? or you rowling around his grave craving about certainty of life?
no you can't live without him.
neither do i.



