tua dan dewasa




Apakah ulang tahun pernah membuatmu bahagia?

Apakah mendekati kematian membuatmu bahagia?


Sama tapi tak sama, ya umur panjang memang jadi idaman, tapi umur panjang tanpa tujuan, apa nggak membosankan?

Lagipula, emangnya tujuan hidup harusnya apa?

Beli rumah empat tingkat di Miami sehari hari berjemur di depan pantai sambil minum air kelapa?

Punya keluarga bahagia dengan empat anak dan dua mobil three seat yang bagasinya luas?

Menyendiri dengan ribuan dollar keliling dunia sebari kenalan banyak orang baru?


Sebenernya kemana hidup harus berarah?

Nggak tau.


Menjadi tua itu pasti, ulang tahun juga nggak bisa dihindari, tapi menjadi dewasa itu seperti berubah dari jentik menjadi nyamuk, punya tanggung jawab mencari darah atau sari buah, mungkin dulu saat jadi jentik, ah enak ya jadi nyamuk, hidup bebas kemana aja, nggak diem aja di atas aer, tapi percayalah jentik kecil, tidak ada yang lebih bahagia dibanding tidur dan tidak ngapa-ngapain tanpa tanggungan, hidup tenang.


Lalu tutorial dewasa itu bagaimana?

Ya, tergantung ruang lingkup, mungkin.

Kalau hidup di keluarga muslim yang taat, ya shalat jangan telat.

Kalau hidup di keluarga pedangan, ya gantiin nyokap jaga warung.

Kalau hidup di keluarga pelaut, ya bantu orang tua menjala udang.

Ya, terlalu banyak kalau, faktanya, kita nggak tau harus gimana, kita cuma ngelakuin hal yang kayanya ini bener deh kalo begini.

Aduh, anak ini baik banget, mau bantu, mau nurut, udah dewasa ya kamu

Penilaian orang sih gitu, faktanya, kita cuma robot yang di program.

Apa itu Quarter Life Crisis


 Mental, adalah hal yang tidak diajarkan disekolah, tapi dunia sangat mengujinya, kapanpun, dimanapun. Meski begitu, Indonesia bukanlah negara yang "sangat" perduli terhadap mental penduduknya.

kenapa indonesia bisa tidak perduli?

cause we are grown up on the end of the line, and our elder grown up at the crisis itself

Pasti sering terdapat kalimat "ah masa sih, lebih parah kakak" or "..lebih parah bapak" or anything. There always be a competition of struggle and shit words that never helps.

Setelah beberapa kali berbicara dengan para "orang dewasa" bisa dilihat bahwa mereka melihat dewasa sebagai ketidakbutuhan pada orang lain.

Tapi faktanya, the more your brain grown, the more you need others.

Nggak sepenuhnya benar sih, kadang kita butuh sendiri, cuma ditemani Disney hotstar, sebotol air mineral dan beberapa keripik kentang, itu sudah membuat bahagia.

Dan pagi hari, kita hanya sendiri, bersama handphone yang baterainya habis karena lupa charge, belum mandi, pusing karena kurang tidur dan berkata dalam hati "Ah gini-gini mulu hidup"

Lalu bertemu dengan teman, merencanakan long trip dalam waktu kerja padat, melihat mereka evolve, pasti membuatmu patah dalam diri. Meski kamu bahagia melihatnya, tapi hatimu akan berjalan "wow, aku ketinggalan" Ya, bisa dibilang ketinggalan, tapi nggak jauh kok.

Kesendirian selalu berlawanan dengan keuangan, kecuali management keuanganmu bersama kawan, ya main sambil kerja. Tapi untuk beberapa orang tidak selalu bahagia ketika bersahabat, bisa jadi mereka ingin sendiri tapi karena merasa tidak enak, yaudah, jalan.

Apa kabar tugas kuliah? Tidak penting.

Kecuali kamu adalah penganut sapiosexual (fetish ke orang intelek), tugas kuliah itu ibarat gelembung di air galon terbalik yang ada di dispenser, nggak ada juga nggak apa, karena yang kita cari itu airnya, pas keluar dari sana manfaat gak tuh gelar apalagi ilmunya. Ya, kuliah juga nggak salah, cuma harus sadar biaya ditanggung ortu itu bikin malu.

Menyebalkan bukan, dulu padahal beli apa-apa minta duit orang tua kayanya biasa aja rasa hati, setelah kenal susahnya pemulung ngumpulin lima puluh ribu perhari, pasti minder. Kalo nggak minder, mungkin kamu anaknya Chairul Tanjung. Jadi yaudah aja, aku kan orang biasa.

Nah karena minder, kita pasti mau nggak mau overthinking sendiri, dan orang tua selalu bilang "Udah fokus kuliah aja". and i would love to tell you that it was just a simple little codswallop from them padahal mereka juga mati-matian untuk bayar kuliah yang nggak bisa jadi jaminan feedback, cashback or else, evenmore, asuransi nggak ngurus kalau kamu nggak sukses setelah pakai toga dan bawa bawa bunga di auditorium kampus.

Am i rich? Never been enough

Am i healthy? I think so

Am i happy? I hope i am.




Peace.

untuk apa jatuh cinta?


Langit merindu kepada embun
berteriak egois melawan
memohon melaui mentari pagi
agar langit bisa memeluknya lagi

tolong, mentari jangan marah ya
kamu bisa kok bersamanya
meski pada berpisah pada akhirnya
mentari mengaung, untuk apa jatuh cinta?

Akhlak adalah....



 Buat apasih berakhlak?

Jika semua tutur indah, lemah lembut dan senyum permai adalah palsu.

"Eh kamu nggak punya akhlak ya!"

Ya gimana, masalahnya akhlak adalah sopan santun kelas manusia, itupun hanya di indonesia, karena akhlak berbanding lurus dengan sopan dan berbanding terbalik dengan kejujuran, nah kan?!

"Apa kejujuran itu termasuk akhlak?"

Iya lah! Kan kalau berakhlak harus jujur juga.

"Tapi kan kalau jujur, kita jadi nggak sopan sama lawan bicara, misal mulutnya bau, ya kita katakan bau dong, kan berakhlak"

Ha-ha-ha. Lucu, karena itu tidak mungkin terjadi di dunia yang cinta akan basa-basi dan pura-pura. Harusnya kita ya ngomong aja seadanya, misal Pak Presiden ngomong, 

oh negara kita krisis nih, ayo kita jualan produk dalam negri supaya nggak krisis, saya ada uang sekian triliun, kalian mau buat apa?

"Dasar tukang mimpi, mana ada Pak Presiden seperti itu, kan kita harus memperhatikan sektor kesehatan karena COVID, sektor ketenagakerjaan karena banyak PHK, tahu apa sih kamu soal negara!"

Iya, kamu bener, tapi sekarang kok jadi kamu yang gak berakhlak ke aku?