why does..

Kesendirian selalu menghadirkan rasa heran, tentang kenapa kita bisa sendirian padahal sedang berada pada keramaian?

tentang apakah kita layak punya hubungan dengan manusia lagi setelah melakukan kesalahan?

tentang mungkin jika ku mati, datang ke makamku pun kau takkan sudi, mungkin?


Namanya juga orang yang sedang diselimuti kesendirian, isi pikirannya hanya tentang kehampaan.

Maaf ya, akhir cerita diisi dengan sebuah dosa.

Cerita Angkara

Pernah nggak, kamu menonton sebuah film dan melihat antagonis, lantas berpikir sejenak "Wah, ada ya orang sejahat itu"

Apa yang terjadi jika hari ini, kamulah si jahat.

Selain pemain, penontonpun membencimu, padahal penonton tak merasakan kejahatanmu

Mahesa menyelesaikan monolognya.









"Terus bagaimana tuh" Tanya Kiona.



"Apanya?" Sahut Mahesa.



"Nggak akan dimaafin?"



"Dimaafin, tapi nggak akan dilupain"


"Kasihan ya" Lirih Kiona sebari mengerutkan alisnya.


"Kok kasihan?"


"Yaaa.. Kesalahan sekali seperti menghapus kebaikan puluhan tahun" Lanjut Kiona "Apalagi dia cuma pemeran, masa penonton ikut membencinya, kenapa?"


"Kiona, sepertinya manusia menyukai kabar buruk dari sesamanya" 


"Kok bisa sih, padahal mereka yang sering bertanya kabar" Tanya Kiona, terisak.

Mahesa hanya tersenyum tipis sambil meninggalkan Kiona keluar ruangan.


"Eh! Tunggu.." Kiona teriak kecil, "Aku masih mau nanya, gimana kalau si jahat itu punya pasangan, apa pasangannya nggak akan nerima keburukan si jahat?"


"Tidak"

Lalu Kiona menangis sejadi-jadinya.

Sebuah takut

 


Pernahkah kamu dipuji hingga merasa tinggi?

Padahal diri masih menginjak bumi

"Bagaimana kita mau berkembang kalau dipuji saja malu!"

Iya benar, tapi bagaimana kalau kita terpaku?


Jatuh cinta juga aneh rasanya, kalau semua terasa cepat dan mudah, padahal tak apa, kata logika.

Hati tidak sepakat, maunya ya harus ada perjuangan biarpun sedikit.

Bagai seekor burung, lahir dari telur biasa, tiba-tiba setelah menetas burung itu sudah terbang secepat walet. Tidak apa, cuma aneh aja.

Bangau pun tertawa kepada cerita barusan, karena bagi bangau, ya kalau hidup, ya harus survive. Tapi, takdir tidak setuju dengan bangau, maunya semua sesuai mau takdir, kalau tidak, takdir maunya dirayu, bukan dipaksa.

Memaksa takdir agar sesuai, hanya akan membuat patah hati.

"Lantas apa sih yang mau kamu ceritakan disini"

Aku juga bingung, seperti rasa takut telah menjadi penguasa. Tak mau juga dikuasai rasa takut, tapi tak mau terlalu bangga terhadap takdir yang tunduk kepada diriku.

Penyimak pun tertawa karena labilnya penyair.

"Ah, mungkin nanti dia bosan" Sahut penyimak.

"Memang kenapa?" Tanya penyimak lainnya.

"Ya sederhana saja, dia jatuh cinta dengan cara yang sama, bosan juga dengan cara yang sama"

Kini terdengar tangis di ujung ruangan karena kalimatnya.


Nah, sekarang bagaimana, takdir sudah memihak, kemana hati akan berpijak?

Tak mau, aku tak mau patah lagi. Sahut hati.

setelah ayah meninggal..


 "Setelah ayah meninggal, realita tak sama lagi"


Si manja merasa tersipu oleh jutaan hujaman pedang rasa malu karena kalimatnya.

Selain miskin finansial, si manja pun miskin intelektual bahkan relasi. Yang ia tau hanyalah berkata benar, meski benar baginya, belum tentu berefek baik bagi realita.

"Ayah, kenapasih ayah melakukan hal itu, ayah kan tau kalau ibu nggak suka ayah begitu" kata si manja

"Ah tidak usah sok ngatur, tau apa kamu anak kecil!" jawab ayahnya, lalu ia pergi, tangisan terdengar dalam diamnya.

Akhirnya si manja menyadari satu hal yang menghambat otak manusia untuk rela, atau ikhlash, dan hal itu adalah kebaikan.

Kebaikan dan kebenaran, seperti dua anak kembar namun beda ibu.
Ibu dari kebaikan bernama sosial, dan ibu dari kebenaran adalah realita.

Ketika kebenaran diselingkuhi, dan kebaikan menang, maka lahirlah makhluk bernama dusta.

Si manja meneguhkan hatinya, bahwa reita tak mau disimpan oleh hati ayahnya, jika itu tidak bersifat baik. Tapi, kenapa harus realita selalu baik, bukannya realita tak bisa diatur oleh kebaikan?

"Ah mungkin aku salah" kata si manja dalam pikirannya, mungkin realita bisa dirayu oleh kebaikan, buktinya banyak kok, tapi juga rayuan tidaklah selalu ampuh sakti tanpa gagal, rayuan pun kerap kali melaksanakan kegagalannya.

Dan manusia sudah tau itu, tapi ia tetap merayu realita agar sesuai kemauan mereka.