Sebuah takut

 


Pernahkah kamu dipuji hingga merasa tinggi?

Padahal diri masih menginjak bumi

"Bagaimana kita mau berkembang kalau dipuji saja malu!"

Iya benar, tapi bagaimana kalau kita terpaku?


Jatuh cinta juga aneh rasanya, kalau semua terasa cepat dan mudah, padahal tak apa, kata logika.

Hati tidak sepakat, maunya ya harus ada perjuangan biarpun sedikit.

Bagai seekor burung, lahir dari telur biasa, tiba-tiba setelah menetas burung itu sudah terbang secepat walet. Tidak apa, cuma aneh aja.

Bangau pun tertawa kepada cerita barusan, karena bagi bangau, ya kalau hidup, ya harus survive. Tapi, takdir tidak setuju dengan bangau, maunya semua sesuai mau takdir, kalau tidak, takdir maunya dirayu, bukan dipaksa.

Memaksa takdir agar sesuai, hanya akan membuat patah hati.

"Lantas apa sih yang mau kamu ceritakan disini"

Aku juga bingung, seperti rasa takut telah menjadi penguasa. Tak mau juga dikuasai rasa takut, tapi tak mau terlalu bangga terhadap takdir yang tunduk kepada diriku.

Penyimak pun tertawa karena labilnya penyair.

"Ah, mungkin nanti dia bosan" Sahut penyimak.

"Memang kenapa?" Tanya penyimak lainnya.

"Ya sederhana saja, dia jatuh cinta dengan cara yang sama, bosan juga dengan cara yang sama"

Kini terdengar tangis di ujung ruangan karena kalimatnya.


Nah, sekarang bagaimana, takdir sudah memihak, kemana hati akan berpijak?

Tak mau, aku tak mau patah lagi. Sahut hati.

0 comments:

Post a Comment