Anekdot Malaikat #2

"Il! Kamu dapet jadwal cabut berkas perizinan hidup untuk customer bernama Mahesa bin Yadi, malam nanti" Seru sang waktu kepada Izroil

"Tenang, ini kan masih pagi" Jawab Izroil

Mahesa bukan konglomerat ataupun cendikiawan. Namun hanya sebilah anak muda yang baru menginjak dua puluh tahun bulan ini, tepatnya beberapa hari yang lalu, tapi maut sudah kangen ingin bertemu.

Hobi Mahesa itu tidur, daripada berbicara ngelantur bersama kawan, itu membuat penyakit vertigo yang ia derita jadi kambuh. Jadi, Mahesa hanya bersahabat dengan buku bacaan, berteman dengan bantal dan tertawa bersama kesunyian.

"Kok si Mahesa sudah harus dicabut, ya?" Tanya sang waktu.

"Lho, yang tahu betul jadwalku itu, bukannya kamu, ya?" Timpal Izroil

"Yo sih, piye to, tugasku iku cuma broadcast dari kerjaanmu aja, Il"

"Iyo ya, yowis" Perdebatan kecil pun terhenti.

Hari menjelang siang, matahari bergerak cepat bagai roda sepeda yang hanya menuruti kemauan pengayuh pedal. Hingga sore disambut penghuni bumi, terlihat oleh Izroil bahwa mahesa membantu ibu Ani penjaga warung untuk mencuci piring, hatinya kosong, bahkan tak berharap pahala apalagi surga, yang Izroil lihat hanyalah hati yang dipenuhi rasa ingin semua makhluk buta dan hanya ia bersama Tuhan menyaksikan kebajikannya.

Malam tiba, Izroil diminta pulang oleh Qodho dan Qodar.

Anekdot Malaikat

Jibril mengantar rizki, kadang berupa kenyang untuk si lapar, kadang hanya sekedar dua ribu rupiah yang dilempar pejalan kaki kepada pengemis di pinggir teras masjid.

Hari rabu itu, sasaran Jibril adalah Mahesa,
anak muda pencinta kucing, kalimat cinta disini, penulis gunakan karena Mahesa menyayanginya bagai kucing adalah teman hidupnya, dia lebih mencintai mereka daripada perutnya sendiri, Mahesa juga menyayangi air minum bekas gurunya, memang aneh kepercayaan bocah beralis tebal itu.

"Hei, Bril. Nanti rabu jam tiga sore jadwalmu itu ngirim paket untuk customer atas nama Mahesa bin Yadi, Ingat ya!" Sahut sang waktu kepada Jibril.

"Ok, Wak. Tapi bagaimana kalau si Mahesa bin Yadi itu tidur?" Timpal Jibril

"Ya mungkin Lauh Mahfuz maunya gitu, Bril"

"Memang opo to isi rizki ne?" Lanjut Jibril sebari menengok ke arah rizki.

"Tadi ku intip sih hanya obat diare karena Mahesa sedari hari minggu lalu mencret-mencret. Kasian, Bril!" Mendengarnya, Jibril pun mengangguk.

"Bril, wis jam dua iki, siap-siap gih"

"Ok"

Bergulir waktu, Jibril berangkat dinas pukul dua, dan sudah datang ke tempat Mahesa. 
Terlihat Mahesa tertidur pulas karena lelah bolak-balik kamar mandi. 
Jibril menunggu sampai jam tiga sesuai jam kerja, namun Mahesa tak kunjung melotot.


Jibril pergi.

Mahesa memancing

Bocah dekil berprawakan kurus, kakeknya menamai bocah itu Mahesa, sering kali berjualan di pasar dan tertawa bersama tukang plastik kresek hitam

Mereka bertemu di tempat kumuh itu, tiap fajar masih tidur.

"Kamu gak ngopi dulu?" Tanya tukang plastik

"Uangnya dipake untuk beli obat kakek" jawab Mahesa

"Lha, memangnya kakekmu yang sakti itu bisa sakit juga?"

"Bukan kang, untuk obat laparnya" Mahesa tertawa lalu pergi.

Bukanlah orang kaya atau saudagar, tapi Mahesa hanya orang sadar, sadar diri kalau dirinya hanya daging berjalan, jika hidup tanpa kakeknya.

Keseharian Mahesa hanyalah memancing dan berpetualang sebari bertanya kepada alam.

"Heh! Anak kecil!" Sahut orang bertato

"Iya, pak?"

"Sini uangmu!"

"Gak ada, pak. Mungkin nanti siang setelah aku jual ikan, uangnya ku kasih bapak ya"

Bagai ribuan taring kobra baru saja menusuk jantungnya, lantas berdebar kencang seperti akan terbakar.

Mulutnya sepi terkunci, otaknya tak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi.

Mahesa kebingungan karena orang bertato itu hanya mematung, lantas Mahesa pamit memancing.
Tahun tujuh tujuh itu kelahiran Mahesa, lahir dalam keadaan miskin harta dan tak berbaju, orang tuanya menamai Mahesa karena itu adalah merk sepeda terkenal pada masanya, berharap Mahesa jadi orang terkenal dan kaya karena keterkenalannya. Sayangnya, hanya ikan-ikanlah yang mengenalnya.













"Apa jangan-jangan, Ustad Darmi itu bohong ya" Sahut akal sehat Mahesa "Jangan-jangan, neraka yang diceritakannya kemarin sore itu cuma bohong, lalu disinilah neraka, di dunia"

Percakapan yang dimulai dengan dirinya sendiri itu dimulai di pinggir sungai Ciliwung disaksikan oleh air dan kail pancing, 

"Iya ya, lantas kalau di neraka itu susah, toh di dunia juga susah, nah! berarti orang-orang ada di neraka hari ini!"

Bocah kecil penyendiri itu menarik kail nya dan memasukkan ikan kedalam plastik putih. Lalu pergi.

Neraka itu murah!

Arid biasa sarapan ketika matahari terbenam,
di warung Ibu tua yang terus menerus mengkhawatirkana anak sulungnya yang pergi jauh untuk mencari uang.

"Aduh kang, anak ku sendirian keluar pergi malam terus kadang jam tiga pagi bisa belum datang, kasian" Sahut Ibu.

"Atuh kalo kasian mah suruh nganggur aja biar rebahan setiap hari" Jawab Arid, cendikia jenaka yang berusaha mencairkan isi kepala Ibu.

"Memangnya akang gak mau kerja untuk punya uang?"

"Lho, bukannya ini kerjaanku bu?"

"apa kang?"

"Makan di warung mu"

Terdengar gelak tawa dari pengunjung toko baju sebelah warung Ibu.

"Aku iku gini lho bu ya, kalo aku diem bukan berarti aku ora kerja, dan kalo putri ibu kerja bukan berarti beliau terus-terusan kerja di kerjaannya, ngono bu!"

"Ooo iyo ya kang" 

Lantas Ibu menceritakan temannya Arid yang sering ngutang, karena temannya itu orang wetan maka beliau nguntang dengan prosedur nganjuk, tapi tidak ekstrim sampai puluhan juta, cuma kerap kali menganjuk satu tempe mendoan seharga seribu rupiah dan dibayar esok hari.

"Wah cerdas juga temanku itu bu!"

"Gak lah! Mana ada orang ngutang bisa cerdas!" Ibu menjawab sambil sedikit marah "Ngene mas! kata guru ku kalau dosa zina itu masih bisa diampuni, tapi kalau hutang itu gak bisa diampuni!"

"Wah, apa malaikat gak punya uang seribu untuk mbayari gorengan temanku ya?"

Ibu yang tadinya ngotot pun jadi tersenyum malu.

"Lho iyo ya bu, aku juga kepikiran nih"

"apa kang?"

"Kalau temanku ngutang seribu hari ini dan niat mbayar besok, terus dia kan gak mbayar berarti ya hari ini, jalan lah dia ke asrama, lalu mati, eh koyok ngene itu masuk neraka kan, dan pasti minder masuk neraka nya"

"Lho kok minder masuk neraka nya, kang?

"Aduh ibu ini bagaimana sih, kan orang masuk neraka karena dosa besar to?"

"Iyo" jawab ibu sebari manggut-manggut kebingungan.

"Nah temanku masuk neraka karena uang seribu"

Untukmu

Tiba-tiba
malam mengantarkan kereta
kereta kecil nostalgia
mengajakku untuk mengingatmu

Akal sehatku di tariknya
berkelana pada semesta
yang tak diizinkan waktu
untuk terulang kembali.

Banten, 2019