"Il! Kamu dapet jadwal cabut berkas perizinan hidup untuk customer bernama Mahesa bin Yadi, malam nanti" Seru sang waktu kepada Izroil
"Tenang, ini kan masih pagi" Jawab Izroil
Mahesa bukan konglomerat ataupun cendikiawan. Namun hanya sebilah anak muda yang baru menginjak dua puluh tahun bulan ini, tepatnya beberapa hari yang lalu, tapi maut sudah kangen ingin bertemu.
Hobi Mahesa itu tidur, daripada berbicara ngelantur bersama kawan, itu membuat penyakit vertigo yang ia derita jadi kambuh. Jadi, Mahesa hanya bersahabat dengan buku bacaan, berteman dengan bantal dan tertawa bersama kesunyian.
"Kok si Mahesa sudah harus dicabut, ya?" Tanya sang waktu.
"Lho, yang tahu betul jadwalku itu, bukannya kamu, ya?" Timpal Izroil
"Yo sih, piye to, tugasku iku cuma broadcast dari kerjaanmu aja, Il"
"Iyo ya, yowis" Perdebatan kecil pun terhenti.
Hari menjelang siang, matahari bergerak cepat bagai roda sepeda yang hanya menuruti kemauan pengayuh pedal. Hingga sore disambut penghuni bumi, terlihat oleh Izroil bahwa mahesa membantu ibu Ani penjaga warung untuk mencuci piring, hatinya kosong, bahkan tak berharap pahala apalagi surga, yang Izroil lihat hanyalah hati yang dipenuhi rasa ingin semua makhluk buta dan hanya ia bersama Tuhan menyaksikan kebajikannya.
Malam tiba, Izroil diminta pulang oleh Qodho dan Qodar.
"Tenang, ini kan masih pagi" Jawab Izroil
Mahesa bukan konglomerat ataupun cendikiawan. Namun hanya sebilah anak muda yang baru menginjak dua puluh tahun bulan ini, tepatnya beberapa hari yang lalu, tapi maut sudah kangen ingin bertemu.
Hobi Mahesa itu tidur, daripada berbicara ngelantur bersama kawan, itu membuat penyakit vertigo yang ia derita jadi kambuh. Jadi, Mahesa hanya bersahabat dengan buku bacaan, berteman dengan bantal dan tertawa bersama kesunyian.
"Kok si Mahesa sudah harus dicabut, ya?" Tanya sang waktu.
"Lho, yang tahu betul jadwalku itu, bukannya kamu, ya?" Timpal Izroil
"Yo sih, piye to, tugasku iku cuma broadcast dari kerjaanmu aja, Il"
"Iyo ya, yowis" Perdebatan kecil pun terhenti.
Hari menjelang siang, matahari bergerak cepat bagai roda sepeda yang hanya menuruti kemauan pengayuh pedal. Hingga sore disambut penghuni bumi, terlihat oleh Izroil bahwa mahesa membantu ibu Ani penjaga warung untuk mencuci piring, hatinya kosong, bahkan tak berharap pahala apalagi surga, yang Izroil lihat hanyalah hati yang dipenuhi rasa ingin semua makhluk buta dan hanya ia bersama Tuhan menyaksikan kebajikannya.
Malam tiba, Izroil diminta pulang oleh Qodho dan Qodar.