Mahesa memancing

Bocah dekil berprawakan kurus, kakeknya menamai bocah itu Mahesa, sering kali berjualan di pasar dan tertawa bersama tukang plastik kresek hitam

Mereka bertemu di tempat kumuh itu, tiap fajar masih tidur.

"Kamu gak ngopi dulu?" Tanya tukang plastik

"Uangnya dipake untuk beli obat kakek" jawab Mahesa

"Lha, memangnya kakekmu yang sakti itu bisa sakit juga?"

"Bukan kang, untuk obat laparnya" Mahesa tertawa lalu pergi.

Bukanlah orang kaya atau saudagar, tapi Mahesa hanya orang sadar, sadar diri kalau dirinya hanya daging berjalan, jika hidup tanpa kakeknya.

Keseharian Mahesa hanyalah memancing dan berpetualang sebari bertanya kepada alam.

"Heh! Anak kecil!" Sahut orang bertato

"Iya, pak?"

"Sini uangmu!"

"Gak ada, pak. Mungkin nanti siang setelah aku jual ikan, uangnya ku kasih bapak ya"

Bagai ribuan taring kobra baru saja menusuk jantungnya, lantas berdebar kencang seperti akan terbakar.

Mulutnya sepi terkunci, otaknya tak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi.

Mahesa kebingungan karena orang bertato itu hanya mematung, lantas Mahesa pamit memancing.
Tahun tujuh tujuh itu kelahiran Mahesa, lahir dalam keadaan miskin harta dan tak berbaju, orang tuanya menamai Mahesa karena itu adalah merk sepeda terkenal pada masanya, berharap Mahesa jadi orang terkenal dan kaya karena keterkenalannya. Sayangnya, hanya ikan-ikanlah yang mengenalnya.













"Apa jangan-jangan, Ustad Darmi itu bohong ya" Sahut akal sehat Mahesa "Jangan-jangan, neraka yang diceritakannya kemarin sore itu cuma bohong, lalu disinilah neraka, di dunia"

Percakapan yang dimulai dengan dirinya sendiri itu dimulai di pinggir sungai Ciliwung disaksikan oleh air dan kail pancing, 

"Iya ya, lantas kalau di neraka itu susah, toh di dunia juga susah, nah! berarti orang-orang ada di neraka hari ini!"

Bocah kecil penyendiri itu menarik kail nya dan memasukkan ikan kedalam plastik putih. Lalu pergi.

0 comments:

Post a Comment