di warung Ibu tua yang terus menerus mengkhawatirkana anak sulungnya yang pergi jauh untuk mencari uang.
"Aduh kang, anak ku sendirian keluar pergi malam terus kadang jam tiga pagi bisa belum datang, kasian" Sahut Ibu.
"Atuh kalo kasian mah suruh nganggur aja biar rebahan setiap hari" Jawab Arid, cendikia jenaka yang berusaha mencairkan isi kepala Ibu.
"Memangnya akang gak mau kerja untuk punya uang?"
"Lho, bukannya ini kerjaanku bu?"
"apa kang?"
"Makan di warung mu"
Terdengar gelak tawa dari pengunjung toko baju sebelah warung Ibu.
"Aku iku gini lho bu ya, kalo aku diem bukan berarti aku ora kerja, dan kalo putri ibu kerja bukan berarti beliau terus-terusan kerja di kerjaannya, ngono bu!"
"Ooo iyo ya kang"
Lantas Ibu menceritakan temannya Arid yang sering ngutang, karena temannya itu orang wetan maka beliau nguntang dengan prosedur nganjuk, tapi tidak ekstrim sampai puluhan juta, cuma kerap kali menganjuk satu tempe mendoan seharga seribu rupiah dan dibayar esok hari.
"Wah cerdas juga temanku itu bu!"
"Gak lah! Mana ada orang ngutang bisa cerdas!" Ibu menjawab sambil sedikit marah "Ngene mas! kata guru ku kalau dosa zina itu masih bisa diampuni, tapi kalau hutang itu gak bisa diampuni!"
"Wah, apa malaikat gak punya uang seribu untuk mbayari gorengan temanku ya?"
Ibu yang tadinya ngotot pun jadi tersenyum malu.
"Lho iyo ya bu, aku juga kepikiran nih"
"apa kang?"
"Kalau temanku ngutang seribu hari ini dan niat mbayar besok, terus dia kan gak mbayar berarti ya hari ini, jalan lah dia ke asrama, lalu mati, eh koyok ngene itu masuk neraka kan, dan pasti minder masuk neraka nya"
"Lho kok minder masuk neraka nya, kang?
"Aduh ibu ini bagaimana sih, kan orang masuk neraka karena dosa besar to?"
"Iyo" jawab ibu sebari manggut-manggut kebingungan.
"Nah temanku masuk neraka karena uang seribu"
0 comments:
Post a Comment