dunia hari ini

Perkotaan malam berkilau,
sampai sang fajar mengusir kilauannya
Ku ukir kata demi kata ini ketika ia belum tiba
Pukul enam, semerbak aroma embun pagi
Lembut menyapa sukma sekawanan pengendara kuda bermesin
Buruh berwajah letih, berhamburan mengejar waktu
Kakek tua berbaju kumuh bersimpuh pasrah pada pangkuan bahu jalan
Pengamen dan lagu lawas
Demi sesuap nasi, katanya
Awan berjalan tanpa kaki
Samar terdengar suara burung bernyanyi
Terlihat dari kejauhan, seorang anak berseragam merah putih mengecup punggung tangan kanan ibunya
berjalan sumringah bersama kaumnya,
Seolah senyumnya beramanat,
"Hidup terlalu singkat untuk tidak bahagia"

Ah, Malas

Ah, Malas
: Yanti Puspita -- Juara 2 LPN2019

Jika hari ini aku mati
Aku tidak ingin berumah di tanah
Aku malas bertemu Tuhan

Kubur aku di tempat yang tidak Tuhan tahu
Pokoknya, Tuhan tidak boleh tahu

Rangkasbitung. 01 Juli 2019

Ragu

aku tak perlu pernyataan cintamu, yang kuperlukan adalah engkau mencintaiku, kata Pepatah instagram

Bagiku ini bisa benar, jika dia-- yang kucinta sudah cukup bisu untuk tidak mengungkapkan cintanya.
Bahkan akupun sama.

Beberapa kali takdir menawarkan penggantimu tapi aku menepisnya dengan rinduku padamu.
Bagai Perancis tanpa Eiffle, sepi dan kesepian, kosong dan dikosongkan. Perancis adalah rumah yang Eiffle dambakan, dan Eiffle selalu bersamanya meski paham betul bahwa eksistensinya hanya pada selembar kertas foto.

"Mereka mencintai, benar kan, Pak?" tanya Nio pada bapaknya,

"Ah, kamu bisa aja narasi nya, memang, lelaki muda yang sedang jatuh cinta selalu dekat dengan malaikat gombal!" lantas keduanya pun tertawa.

"Pak, apa kalau kita jatuh cinta pada seseorang, kita harus menikahinya?"

"Kamu itu pura-pura polos atau pura-pura bodoh?"

"Nganu-"

"Kalo kamu mencintai puisi, artinya kamu harus menikahi puisi, dong!" Bapaknya tersenyum.

Nio masih belum puas dengan jawaban bapak.
Dengan adab dan kesadaran, Nio tak menyampaikannya.

Dan menunggu takdir dan waktu menikah, untuk melahirkan jawaban .


'lantas, jika mencintai berarti menikahi, artinya Bapak akan menikahiku, karena Bapak mencintaiku sebagai anaknya'

'lantas, jika Pak Mushab memiliki sapi, menjaganya seperti Pak Mushab mencintainya, apakah ia harus menikahi sapi itu?'

'Wah, sepertinya aku terpenjara di kepalaku sendiri'

Akhirnya, dengan menggandeng kebingungan, Nio berjalan keluar rumah, pergi dari beranda manusia, beranjak ke pepohonan rindang dekat sawah milik Pak Mushab sebari mendengarkan lagu-lagu angin sore yang ditiupnya perlahan.

Takdir dan waktu beranak lagi,
sepasang burung dara 'bercinta' di atas langit, tak malu pada langit, mereka telanjang. Tapi malu telah sirnah dari pikiran, terganti oleh cinta yang tak bertepi.

Lantas Nio berpikir tentang, kapan mereka jatuh cinta, untuk apa mereka jatuh cinta.
oh ya, nafsu.

Nio masih berpikir, tak terasa matahari sudah hampir tidur.
Sambil berjalan, pikirannya terus berterbangan jauh keatas atmosfir Arsy, mengetuk pintunya untuk mengemis jawaban,
'Jika dokter butuh orang sakit untuk bekerja'
'Pemadam kebakaran butuh api untuk beraksi'
'Guru butuh orang bodoh untuk berkarir'
'Bos butuh pekerja untuk berkarya'
'Produsen bukan apa-apa tanpa konsumen, tapi aku hanya bertanya cinta, apa dan kenapa aku harus mencintai seorang gadis, nafsuku yang sekejap ini, tentu akan hancur dengan tidurku, cantikmu pun hanya sehari tentu akan digerogoti waktu, pundi hartamu tak berguna karena tak bisa membeli cintaku'

Sedekahkanlah kata-kata cintamu yang manis itu, kepada orang yang lebih membutuhkan,
karena, yang ku butuhkan adalah engkau mencitaiku

Lalu adzan maghrib mengusir Nio.

Bumbu Dunia

Hambar rasa dunia tanpa harta
Pahit rasanya hidup tanpa dosa
Keabadian itu murahan!
yang manusia mau hanya kemewahan!

Malaikatpun tertawa karena kau minta surga
Seolah bayi tak tahu mahalnya surga
Membayarnya hanya dengan canda tawa

Makam Abah. 2019

Pemusik/Pemusyiq?

Lantang terdengar lantunan ayat
Sepi hati tiada arti
Bagaimana bisa kau bilang agama
Jikalau di otakmu hanya senggama

Oh, seriosa!
Berhenti dan pergi
Kau berthawwaf di khayalku setiap pagi
Terima kasih wahai pelunas lara hati

Makam Abah, 2019.

Puisi Air Mata Malaikat

Dunia sempit jadi muat
Mengusir penat
Bagai si Beringin yang lebat
mampu menyindir pelancong
Meski tanpa buah yang kuat

Ibu,
Ku bersumpah demi hidupku
yang sekejap
Kaulah air mata malaikatku

Makam Abah, 2019.

Puisi Guratan Sang Semut

Curhatan Sang Semut

Berjalan tanpa arah
Kaki-kaki kecil memimpin tak tentu
Sofa mewah tak kududuki
Kasur empuk tak kusinggahi

Tiada pernah kutanya Tuhan
akan tujuan hamba
Hei! Si perkasa
yang berdiri mendongkak disana
Sudahkah kita pasrah?

Makam Abah, 2019.

Puisi Curhat


Hanya hati, 1948

Gajiku kecil
Pencaharian lain tak ada
Kicuh buku aku tak tahu
Korupsi aku tak mahir
Berniaga aku tak pandai
Kau minta permadani
Padaku hanya tikar pandan
Tempat berbaring tidur seorang
Kau minta tas atom
Padaku hanya kampir matur
Kau minta rumah indah perabit cukup
Lihatlah! Gubukku tiris
Kau minta kereta bagus
Aku hanya orang kecil
Apa dayaku
Kekayaanku hanya satu, dik
Hati
Hati yang luas tak bertepi
Cinta yang dalam tak terajuk

>Buya Hamka

Guratan Mahesa

"Mahesa, nak kemarilah," Lanjut ibunya "Berjalanlah lebih cepat jangan seperti keong lapar!"

Anggukan Mahesa jadi jawabannya
Anak sekolah dasar itu bercengkrama dengan ibunya sebari membawa kotak makanan kecil dan tas berwarna biru tua,
berangkat sendirian sambil menonton awan bercakap
"Mahesa, kamu nonton tv gak semalem?"

"Aku langsung tidur, karena kata ibu nanti hafalanku akan terganti oleh acara tv kalau nonton sebelum tidur" 

"Payah!" Temannya berjalan melewati Mahesa.

Mama sengaja tidak pernah mengantar Mahesa agar dia bisa berjalan sendirian dan tidak manja, justru karena itu, Mahesa lebih sering berpikir daripada bicara. Terkadang Mahesa berbicara pada dirinya sendiri, seolah kesepian telah menjadi sahabatnya.

Jengkleek..
Suara pintu tertanda Ayah pulang.

"Ayah bawa hadiah untuk Mahesa" Sahut ayahnya sebari tersenyum.
Mahesa membuka kresek hitam itu dan melihat robot berwarna abu-abu, di samping itu ada buku kecil berjudul Rahasia dari rahasia - Siti Jenar.

Ayah lantas pergi ke dapur untuk makan bersama Mama.

Polosnya, Mahesa membalik buku itu dan membaca tulisan di punggung buku, kalimatnya:
Dunia ini hanya sejam! Akulah saksinya, kata Siti Jenar

Benak Mahesa menjawab dengan polosnya, Masa Sih?
Lantas tiada peduli lah Mahesa pada buku itu lalu pergi makan.

"Ayah, siapa itu siti jenar? Kenapa dia bilang hidup cuma sejam?" Pagi hari menjadi waktu yang pas untuk bertanya, karena Mahesa takut Ayah marah setelah lelahnya bekerja.

"Itu manusia biasa, tapi beliau benar"

"Kalo gitu kita ngapain disini, Yah?"

"Maksudmu piye to, le?


"Enggak, cuma nanya"

Ayahnya menyalakan motor lantas tidak memperdulikan pertanyaan yang baginya konyol itu,
Sementara Mahesa masih termenung memikirkan kalimat yang tadinya akan dia tanyakan kepada Ayahnya, Kalau hidup cuma sejam, kenapa Mama buru-buru dan Ayah marah terus tiap pulang kerja?

Mama berteriak dari dapur.
Mahesa kembali kepada rutinitasnya.

Rumah, 2019.

Puisi logika cinta

Hari ini ku mengerti
Rindu itu ilusi
Yang berumur abadi
Setiap hari selalu bercerita
Tentang seberapa jahatnya jarak

Tentu saja rindu dan cinta itu bersahabat
Jikalau Tuan mencintaiku karena rambut panjangku
Cinta tuan pasti pudar saat umur memotongnya
Jikalau Tuan mencintaiku karena pintarku
Cinta tuan pasti runtuh saat pikun merenggutnya
Jikalau Tuan mencintaiku karena harta
Cinta tuan pasti binasa saat kemiskinan menyapa

Rumah, 2019.

Puisi Ikan

Percakapan bisu antara air dan batu
Kau menguping tanpa jarak
Bersua antara acuh dan tak acuh
Burung elang menonton sebari menelan ludah
matamu terbelalak
tapi jasadmu tenang berkuasa

datanglah kau kemari
maukah kau jadi mursyidku?

Banten, 2019