Guratan Mahesa

"Mahesa, nak kemarilah," Lanjut ibunya "Berjalanlah lebih cepat jangan seperti keong lapar!"

Anggukan Mahesa jadi jawabannya
Anak sekolah dasar itu bercengkrama dengan ibunya sebari membawa kotak makanan kecil dan tas berwarna biru tua,
berangkat sendirian sambil menonton awan bercakap
"Mahesa, kamu nonton tv gak semalem?"

"Aku langsung tidur, karena kata ibu nanti hafalanku akan terganti oleh acara tv kalau nonton sebelum tidur" 

"Payah!" Temannya berjalan melewati Mahesa.

Mama sengaja tidak pernah mengantar Mahesa agar dia bisa berjalan sendirian dan tidak manja, justru karena itu, Mahesa lebih sering berpikir daripada bicara. Terkadang Mahesa berbicara pada dirinya sendiri, seolah kesepian telah menjadi sahabatnya.

Jengkleek..
Suara pintu tertanda Ayah pulang.

"Ayah bawa hadiah untuk Mahesa" Sahut ayahnya sebari tersenyum.
Mahesa membuka kresek hitam itu dan melihat robot berwarna abu-abu, di samping itu ada buku kecil berjudul Rahasia dari rahasia - Siti Jenar.

Ayah lantas pergi ke dapur untuk makan bersama Mama.

Polosnya, Mahesa membalik buku itu dan membaca tulisan di punggung buku, kalimatnya:
Dunia ini hanya sejam! Akulah saksinya, kata Siti Jenar

Benak Mahesa menjawab dengan polosnya, Masa Sih?
Lantas tiada peduli lah Mahesa pada buku itu lalu pergi makan.

"Ayah, siapa itu siti jenar? Kenapa dia bilang hidup cuma sejam?" Pagi hari menjadi waktu yang pas untuk bertanya, karena Mahesa takut Ayah marah setelah lelahnya bekerja.

"Itu manusia biasa, tapi beliau benar"

"Kalo gitu kita ngapain disini, Yah?"

"Maksudmu piye to, le?


"Enggak, cuma nanya"

Ayahnya menyalakan motor lantas tidak memperdulikan pertanyaan yang baginya konyol itu,
Sementara Mahesa masih termenung memikirkan kalimat yang tadinya akan dia tanyakan kepada Ayahnya, Kalau hidup cuma sejam, kenapa Mama buru-buru dan Ayah marah terus tiap pulang kerja?

Mama berteriak dari dapur.
Mahesa kembali kepada rutinitasnya.

Rumah, 2019.

0 comments:

Post a Comment