tentang Bagong
tentang Petruk
kaumku menyebutmu malas
tapi aku tidak
aku menyebutmu temanku
temanku yang suka menjajal kebolehanku
tentang Dia
orang bilang aku ini sombong
sombong karena gengsiku tinggi
mereka bilang
semua yang kuperbuat hanya untuk harta bahkan tahta
mereka pikir Tuhanku begitu miskin dan malas
hingga tak mampu
tak mampu mengurusku
si miskin ini
aku akui bahwa aku gengsi
gengsiku tinggi
sangat tinggi bahkan gedung mewah Dubai pun terlewat olehnya
tapi bukan untuk kalian
yang masih ngontrak di dunia
mereka juga bilang kalau aku malas
iya, aku malas mendengar ocehanmu
di warung kopi dengan uang receh dan tawa
kopi pun ditemani makan
tapi takkan kenyang
karena disana
mereka makan daging saudara mereka sendiri.
tentang Semar
PILIH BH UKURAN 36B ATAU ISI BH UKURAN 36B?
akhir
kenapa kalimat cinta ditemani kalimat jatuh
apakah ada jatuh yang tidak menyebabkan sakit?
salahku, semua ini awalnya salahku
karena membolehkanmu masuk ke hati
tinggal serta nyaman disana
padahal ku tak sadar
bahwa bisa kalajengking baru saja ku anggap air segar oase
'SEMUA WANITA SAMA SAJA BANGSATNYA!' Teriak salah satu pendemo zaman megawati.
kalimat itu jahat jika diberi kepada istri para nabi
kalimat itu baik jika melihat keadaanku sekarang
iya, sekarang
bisakah kau menoleh sedikit kepada pedangmu yang masih terhunus ini
kalimat indah dan janji cinta
itu semua menari di kepalaku
membuat simfoni indah dan tak ingin berhenti
sudah berjuta cara ku usahakan menghentikannya
apalah daya manusia mencari ujung pelangi
tapi cobalah kamu tengok
betapa hancurnya aku hari ini
pedangmu lah penyebabnya
semudah itu kau lempar madu ke lautan lalu kau bayar dengan penghianatan
salahku karena telah menganggapmu penghuni hatiku
padahal kau hanyalah sebilah kisah tuhan yang diciptakan untuk lelaki lain.
Apa itu surga?
Aku tak pernah percaya bahwa kau ada
Jika kau benar ada
Maka beritahu padaku
Di peta dunia sebelah mana kau tinggal
Aku percaya bahwa alamat surga itu ibu
Amarahnya adalah irama indah
Menari-nari di telingaku
Terulang tanpa henti
Ku harap itulah yang menemaniku saat ku sendiri
Di kegelapan kubur nanti
Banyak kawanku takut neraka
Maafkan aku wahai neraka dan segala kegarangannya
Ku yakin api mu akan padam oleh senyumnya
Iya, senyum ibu
Kawanku, takutlah jika ibumu hari ini tidak bahagia
Surgapun akan tertawa
tiap kau meminta izin mampir
Jika kau bertanya umpama
Maka jawabku sederhana saja
kau bagai ingin masuk surga tapi enggan mati
Awan & Kiona
Awan, pernahkah langit menolak keberadaanmu?
Cuma matahari yang berani mengusirmu
Tapi terkadang kalian justru saling bercumbu
Melahirkan seorang anak
Tidak silau
Kata orang, itu namanya
Kadang kau hitam acuh tak acuh
Sekali-kali kau juga bening cerah laksana embun pagi
Tapi acuh mu menghasilkan hujan untuk petani demi sepetak padi
Juga terkadang cerahmu membakar pengembala tanpa perduli
Kiona
Bahagiamu adalah bahagiaku,
Tenang saja
Aku tak akan mengganggu
Kamu bahagia dengan jalan ceritamu sendiri
Akupun sama
Jangan saling membenci
Sebab kita pernah saling membahagiakan satu sama lain, bukan?
Terimakasih atas waktumu
Kamu tetap menjadi awanku
Sampai nanti,
Aku pamit.
pekerjaan bergaji tinggi?
Indah nama, beda cerita. Kiona hanyalah anak yatim biasa. Ayahnya sudah tiada.
Kata dokter, rokok lah pembunuhnya, dokter lupa kalau manusia itu punya kemampuan bernama hawa nafsu.
Hari ke hari, Kiona hanya menjalani hidup bersama Mama nya, Hera.
Hera adalah ibu yang baik, belum pernah seharipun aku mendengarnya mengeluh butuh suami kalimat pujian ketus dari salah satu tetangga Hera.
Kiona hanya merindukan ayahnya, tiap malam Kiona berteriak dalam bisu
air mata menjadi teman setia Kiona
bagi Kiona ayahnya adalah teman terbaik
Seringkali Kiona mengutuk Hera dan menyalahkannya akan kematian ayah
tentu semua itu bukan sepenuhnya salah Hera, Kiona pun salah
Kiona tidak mau berdamai dengan dirinya sendiri
dan Hera patah hati, tiap kali melihat keluarga si ayah
dia cenderung menjauhi mereka
Kiona membenci Hera
berjalannya waktu, kebencian itu makin meluap karena Hera menjauh dari patah hatinya
iya, keluarganya, Hera anggap keluarganya adalah ranting dari patah hati itu
padahal akarnya adalah Hera itu sendiri
Waktu telah menipu Kiona, membuat Kiona lupa
bahwa tujuh belas tahun lalu Kiona tidak punya otot kuat untuk berjalan
gigi kokoh untuk makan
bahkan Kiona menyedekahkan kotorannya kepada Hera
Waktu tidak pernah menolong Kiona, bahkan tidak pula menyulitkannya
Waktu hanya menonton sampai tertawa
terkadang Waktu menangis
meminta kepada Tuhannya untuk diizinkan menolong Kiona
hingga tiba Waktu menyaksikan kedatangan seorang Peri mimpi
Waktu pun bertanya 'kenapa bentuk mimpi ini begitu aneh'
Peri mimpi memberi isyarat melalui telunjuk yang diletakkan dibibirnya
akhirnya Waktu pun mengerti bahwa dia harus bisu, seperti perintah Tuhan
Kiona bermimpi
tentang dirinya yang jatuh miskin, tanpa keluarga sama sekali
Hera dan ayah Kiona sudah tiada
hari harinya diisi oleh air mata dan cemas
Kiona ketakutan karena pagi ini hanya sarapan air mata
perut kecilnya terisi oleh teriakan lirihnya
iya, angin lah yang membuatnya kenyang
sampai tibalah dia berkeinginan untuk mencari pundi-pundi rupiah
kota menjadi tujuan utama
tanpa membaca dan perduli bekerja apa
Kiona memasuki bangunan tinggi yang berlapis marmer
lantai terbuat dari kaca
dan ada ribuan ikan penuh warna di bawahnya
pintu bertabur permata menyapa Kiona di bagian depan sebuah ruangan
'mungkin disinilah aku akan dapat yang ku mau' gumamnya,
masuklah ia tanpa memikirkan apapun
Kiona datang di ruangan yang dia pun tak tau itu dimana
sudah ada meja kayu mewah
beberapa buku tebal berserakan diatasnya
dan tak jauh dari meja serta bukunya, ada sosok hitam sedang membaca buku tebal lainnya
"Apa keperluan anda, anak kecil?" tanya sosok berjubah hitam, seolah sudah tau kedatangan Kiona
"a.. aku ingin bekerja disini" Jawab Kiona
"Apa anda punya keahlian?"
"mmhhmm, aku bisa mempromosikan kantor ini melalui popularitas dan kecantikanku!" Jawabnya dengan percaya diri
"Saya tak butuh itu!"
"ah? Tapi aku bisa membuat perusahaan ini menjadi lebih terkenal di mata dunia"
"Saya tak butuh itu!" lanjut sosok hitam "enyahlah anda dari sini!"
"...t.. tapi.. tolong terima aku tuan, aku rela bekerja apapun asalkan perut kosongku bisa terpuaskan"
sosok berjubah hitam pun hanya pergi dari Kiona, kembali lagi sambil membawa buku putih yang bercahaya, seraya bertanya "maukah kamu ku gaji sekantung emas tiap menit?"
"tentu!" lanjutnya "tapi apa pekerjaanku begitu berat?"
"dengarkan baik-baik, anda akan menjadi
seseorang yang bekerja tanpa libur
tanpa izin pulang tanpa izin sakit
anda harus bisa membuat obat-obatan ketika ada yang sakit
memasak makanan, membersihkan ruangan, jangan pernah marah
emosi bahkan memamerkan air mata, jika anda lelah
maka tersenyum, hanya itu yang bisa anda lakukan ketika lelah" jawab sosok jubah hitam
"Mohon maaf tuan, bukannya aku tidak sopan. Memangnya kerjaanku itu apa , ya?"
"Menjadi seorang ibu"
Kiona tersentak lalu bangun dari tidurnya, terlihat bantalnya basah air mata
bangunpun air mata Kiona masih bersemayam di kelopak mata
tanpa memperdulikan penampilannya, Kiona lari mencari Hera
tidak ada yang terpikirkan di benaknya kecuali paras ibunya itu
ditemuinya, Hera sedang memasak di dapur
Kiona memeluknya dengan baju tidurnya
Hera pun kebingungan, tapi Kiona terus menerus memeluknya sambil meminta maaf
Dari kejauhan Peri mimpi tersenyum bersama waktu
mulai hari itu, Peri mimpi dan waktu setuju
kalau menjadi ibu
adalah pekerjaan sepanjang masa.
Tiga Puisi Untuk Kiona #3
Tiga Puisi Untuk Kiona #2
salahku karena merelakanmu pergi
sejujurnya,
aku ingin mengajakmu bicara sampai larut
menonton indah senyum tipismu
memelukmu hingga nyawaku melarangnya
tapi ku tak bisa,
inginku melarang pergimu
namun apa daya, api tidak bisa melarang kayu untuk jadi abu
meski api masih ingin bersamanya.
Tiga Puisi Untuk Kiona #1
tulang rusuk?
"aku sudah pernah merasakan semua kepahitan, tapi yang paling pahit adalah berharap kepada manusia" sahabat nabi, Ali.
tajamnya kalimat itu menusuk bagai anak panah dari kejauhan.
seperti baru saja ada ribuan taring ular tertancap di dadaku.
---
sikapmu merusak rasa yang ku bangun bata demi bata.
dan kamu membawa palu derita, menghancurkan menara rasaku
sambil tertawa seraya berkata 'cintamu tiada harganya!'
bukan hanya hancur, tapi rasaku sudah nihil kemungkinan untuk dibangun kembali
---
'Rumaysho, aku ingin menjadi suamimu!' teriak Amiek, tapi Rumaysho hanya cerita masa lalu yang belum tentu Tuhan membuatnya untuk kedua kali
---
inginku memintamu untuk bersamaku, tapi apa daya, aku hanyalah si tolol yang kosong akan pengetahuan.
iya, benar, tolol.
karena kebohonganmu saja tak ku sadari.
---
seharian ku hanya teriak dalam sunyi
menangis tersedu dalam bisu
marah dan cemburu tak bersuara
orang sekitarku bertanya aku kenapa, hanya senyum palsu yang kupamerkan sebagai jawaban
---
aku iri pada Adam
lelaki yang belum pernah patah hati karena pujaan hati
dan Hawa
hadir ke dunia ini sebagai tulang rusuknya
betapa bahagia
---
Aku
anak Adam yang telah menjual jiwa dan hatinya kepada wanita yang tak perduli betapa aku mencintanya
---
hilang arah
tulang rusukku tidak jelas dimana
dan hari ini
sakit rasanya ketika aku tau tulang rusukku bukanlah dia
---
Tuhan, aku punya pesan untukmu
sadarkanlah jiwaku
dari malapetaka wanita
---
ku pikir telah meminum secangkir anggur cinta dan mabuk bersama orang yang benar
ternyata tidak
---
cinta buta, kalimat itu benar adanya
kamu, tulang rusukku
dimana kau berada?