Kiona, itu adalah nama terindah yang pernah terdengar telingaku.
Indah nama, beda cerita. Kiona hanyalah anak yatim biasa. Ayahnya sudah tiada.
Kata dokter, rokok lah pembunuhnya, dokter lupa kalau manusia itu punya kemampuan bernama hawa nafsu.
Hari ke hari, Kiona hanya menjalani hidup bersama Mama nya, Hera.
Hera adalah ibu yang baik, belum pernah seharipun aku mendengarnya mengeluh butuh suami kalimat pujian ketus dari salah satu tetangga Hera.
Kiona hanya merindukan ayahnya, tiap malam Kiona berteriak dalam bisu
air mata menjadi teman setia Kiona
bagi Kiona ayahnya adalah teman terbaik
Seringkali Kiona mengutuk Hera dan menyalahkannya akan kematian ayah
tentu semua itu bukan sepenuhnya salah Hera, Kiona pun salah
Kiona tidak mau berdamai dengan dirinya sendiri
dan Hera patah hati, tiap kali melihat keluarga si ayah
dia cenderung menjauhi mereka
Kiona membenci Hera
berjalannya waktu, kebencian itu makin meluap karena Hera menjauh dari patah hatinya
iya, keluarganya, Hera anggap keluarganya adalah ranting dari patah hati itu
padahal akarnya adalah Hera itu sendiri
Waktu telah menipu Kiona, membuat Kiona lupa
bahwa tujuh belas tahun lalu Kiona tidak punya otot kuat untuk berjalan
gigi kokoh untuk makan
bahkan Kiona menyedekahkan kotorannya kepada Hera
Waktu tidak pernah menolong Kiona, bahkan tidak pula menyulitkannya
Waktu hanya menonton sampai tertawa
terkadang Waktu menangis
meminta kepada Tuhannya untuk diizinkan menolong Kiona
hingga tiba Waktu menyaksikan kedatangan seorang Peri mimpi
Waktu pun bertanya 'kenapa bentuk mimpi ini begitu aneh'
Peri mimpi memberi isyarat melalui telunjuk yang diletakkan dibibirnya
akhirnya Waktu pun mengerti bahwa dia harus bisu, seperti perintah Tuhan
Kiona bermimpi
tentang dirinya yang jatuh miskin, tanpa keluarga sama sekali
Hera dan ayah Kiona sudah tiada
hari harinya diisi oleh air mata dan cemas
Kiona ketakutan karena pagi ini hanya sarapan air mata
perut kecilnya terisi oleh teriakan lirihnya
iya, angin lah yang membuatnya kenyang
sampai tibalah dia berkeinginan untuk mencari pundi-pundi rupiah
kota menjadi tujuan utama
tanpa membaca dan perduli bekerja apa
Kiona memasuki bangunan tinggi yang berlapis marmer
lantai terbuat dari kaca
dan ada ribuan ikan penuh warna di bawahnya
pintu bertabur permata menyapa Kiona di bagian depan sebuah ruangan
'mungkin disinilah aku akan dapat yang ku mau' gumamnya,
masuklah ia tanpa memikirkan apapun
Kiona datang di ruangan yang dia pun tak tau itu dimana
sudah ada meja kayu mewah
beberapa buku tebal berserakan diatasnya
dan tak jauh dari meja serta bukunya, ada sosok hitam sedang membaca buku tebal lainnya
"Apa keperluan anda, anak kecil?" tanya sosok berjubah hitam, seolah sudah tau kedatangan Kiona
"a.. aku ingin bekerja disini" Jawab Kiona
"Apa anda punya keahlian?"
"mmhhmm, aku bisa mempromosikan kantor ini melalui popularitas dan kecantikanku!" Jawabnya dengan percaya diri
"Saya tak butuh itu!"
"ah? Tapi aku bisa membuat perusahaan ini menjadi lebih terkenal di mata dunia"
"Saya tak butuh itu!" lanjut sosok hitam "enyahlah anda dari sini!"
"...t.. tapi.. tolong terima aku tuan, aku rela bekerja apapun asalkan perut kosongku bisa terpuaskan"
sosok berjubah hitam pun hanya pergi dari Kiona, kembali lagi sambil membawa buku putih yang bercahaya, seraya bertanya "maukah kamu ku gaji sekantung emas tiap menit?"
"tentu!" lanjutnya "tapi apa pekerjaanku begitu berat?"
"dengarkan baik-baik, anda akan menjadi
seseorang yang bekerja tanpa libur
tanpa izin pulang tanpa izin sakit
anda harus bisa membuat obat-obatan ketika ada yang sakit
memasak makanan, membersihkan ruangan, jangan pernah marah
emosi bahkan memamerkan air mata, jika anda lelah
maka tersenyum, hanya itu yang bisa anda lakukan ketika lelah" jawab sosok jubah hitam
"Mohon maaf tuan, bukannya aku tidak sopan. Memangnya kerjaanku itu apa , ya?"
"Menjadi seorang ibu"
Kiona tersentak lalu bangun dari tidurnya, terlihat bantalnya basah air mata
bangunpun air mata Kiona masih bersemayam di kelopak mata
tanpa memperdulikan penampilannya, Kiona lari mencari Hera
tidak ada yang terpikirkan di benaknya kecuali paras ibunya itu
ditemuinya, Hera sedang memasak di dapur
Kiona memeluknya dengan baju tidurnya
Hera pun kebingungan, tapi Kiona terus menerus memeluknya sambil meminta maaf
Dari kejauhan Peri mimpi tersenyum bersama waktu
mulai hari itu, Peri mimpi dan waktu setuju
kalau menjadi ibu
adalah pekerjaan sepanjang masa.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment