Ayah
aku yakin engkau berniat baik
Sulit bagiku untuk mengaku,
bahwa hati ini rindu
Tapi lisan ku selalu membeku
Tiada kata rayuan rindu,
aku yakin ayah pun begitu
Ayah bilang,
dunia ini cuma tentang waktu
Entahlah, aku tak paham.
Semoga kau berumur panjang
Jika kematian mengetuk pintumu lebih dulu,
maka ku harap
Ragaku menolak kesedihan
Aku akan mendoakanmu, tanpa harus merindu
Bukankah di kita manusia, saat di perut bumi
Mahesa & Bapak
"Pak" Sahut Mahesa sebari membenahi posisi duduknya lantas mengambil remote tv "Aku semalem mimpi"
"Basah?" Jawab Bapak, santai.
"Mimpi Bapak meninggal"
Suasana petang, hiruk pikuk burung yang berlalu-lalang pun lantas sepi layaknya sebuah peradaban yang hancur oleh asteroid.
"Aku nangis, lho"
"Kan cuma mimpi" Jawab Bapak, lagi
"Iyasih" Mahesa berhenti menekan remote "Aku cuma gamau nangis di masa depan"
"Lho, kalau Bapak mati, kamu nggak nangis, le?"
"Iya"
"Kenapa?"
"Wah, ada dua sebab pak!" Kata Mahesa sambil tertawa kecil
"Apa?"
"Pertama, karena aku sudah nangis nangis saat bangun tidur. Kedua, aku mau doain Bapak, supaya malaikat pintu neraka libur dulu"
Bapak tersenyum tipis.
"Terus bapak gak didoain supaya masuk surga?"
"Hmm, masuk angin aja, Pak!"
Percakapan indah sore berakhir dengan Mahesa bangun dari tidurnya,
Bapak sudah diperut bumi sejak tujuh tahun lalu.
Laila
Wahai Layla kekasihku
Berjanjilah pada keagungan cinta agar sayap jiwamu dapat terbang bebas
Melayanglah bersama cinta laksana anak panah menuju sasaran
Cinta tidak pernah membelenggu
Karena cinta adalah pembebas, yang akan melepaskanbuhul-buhul keberadaan
Cinta adalah pembebas dari segala belenggu
Walau dalam cinta, setiap cawan adalah kesedihan
Namun jiwa pecinta akan memberi kehidupan baru
Banyak racun yang harus kita teguk untuk menambahkenikmatan cinta
Atas nama cinta, racun yang pahit pun terasa manis
Bertahanlah kekasihku, dunia diciptakan untuk kaum pecinta
Dunia ada karena ada cinta
Anekdot Malaikat #2
"Tenang, ini kan masih pagi" Jawab Izroil
Mahesa bukan konglomerat ataupun cendikiawan. Namun hanya sebilah anak muda yang baru menginjak dua puluh tahun bulan ini, tepatnya beberapa hari yang lalu, tapi maut sudah kangen ingin bertemu.
Hobi Mahesa itu tidur, daripada berbicara ngelantur bersama kawan, itu membuat penyakit vertigo yang ia derita jadi kambuh. Jadi, Mahesa hanya bersahabat dengan buku bacaan, berteman dengan bantal dan tertawa bersama kesunyian.
"Kok si Mahesa sudah harus dicabut, ya?" Tanya sang waktu.
"Lho, yang tahu betul jadwalku itu, bukannya kamu, ya?" Timpal Izroil
"Yo sih, piye to, tugasku iku cuma broadcast dari kerjaanmu aja, Il"
"Iyo ya, yowis" Perdebatan kecil pun terhenti.
Hari menjelang siang, matahari bergerak cepat bagai roda sepeda yang hanya menuruti kemauan pengayuh pedal. Hingga sore disambut penghuni bumi, terlihat oleh Izroil bahwa mahesa membantu ibu Ani penjaga warung untuk mencuci piring, hatinya kosong, bahkan tak berharap pahala apalagi surga, yang Izroil lihat hanyalah hati yang dipenuhi rasa ingin semua makhluk buta dan hanya ia bersama Tuhan menyaksikan kebajikannya.
Malam tiba, Izroil diminta pulang oleh Qodho dan Qodar.
Anekdot Malaikat
Jibril mengantar rizki, kadang berupa kenyang untuk si lapar, kadang hanya sekedar dua ribu rupiah yang dilempar pejalan kaki kepada pengemis di pinggir teras masjid.
Hari rabu itu, sasaran Jibril adalah Mahesa,
anak muda pencinta kucing, kalimat cinta disini, penulis gunakan karena Mahesa menyayanginya bagai kucing adalah teman hidupnya, dia lebih mencintai mereka daripada perutnya sendiri, Mahesa juga menyayangi air minum bekas gurunya, memang aneh kepercayaan bocah beralis tebal itu.
"Hei, Bril. Nanti rabu jam tiga sore jadwalmu itu ngirim paket untuk customer atas nama Mahesa bin Yadi, Ingat ya!" Sahut sang waktu kepada Jibril.
"Ok, Wak. Tapi bagaimana kalau si Mahesa bin Yadi itu tidur?" Timpal Jibril
"Ya mungkin Lauh Mahfuz maunya gitu, Bril"
"Memang opo to isi rizki ne?" Lanjut Jibril sebari menengok ke arah rizki.
"Tadi ku intip sih hanya obat diare karena Mahesa sedari hari minggu lalu mencret-mencret. Kasian, Bril!" Mendengarnya, Jibril pun mengangguk.
"Bril, wis jam dua iki, siap-siap gih"
"Ok"
Bergulir waktu, Jibril berangkat dinas pukul dua, dan sudah datang ke tempat Mahesa.
Terlihat Mahesa tertidur pulas karena lelah bolak-balik kamar mandi.
Jibril menunggu sampai jam tiga sesuai jam kerja, namun Mahesa tak kunjung melotot.
Jibril pergi.
Mahesa memancing
Mulutnya sepi terkunci, otaknya tak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Iya ya, lantas kalau di neraka itu susah, toh di dunia juga susah, nah! berarti orang-orang ada di neraka hari ini!"
Neraka itu murah!
Untukmu
Tiba-tiba
malam mengantarkan kereta
kereta kecil nostalgia
mengajakku untuk mengingatmu
Akal sehatku di tariknya
berkelana pada semesta
yang tak diizinkan waktu
untuk terulang kembali.
Banten, 2019
dunia hari ini
sampai sang fajar mengusir kilauannya
Ku ukir kata demi kata ini ketika ia belum tiba
Lembut menyapa sukma sekawanan pengendara kuda bermesin
Buruh berwajah letih, berhamburan mengejar waktu
Kakek tua berbaju kumuh bersimpuh pasrah pada pangkuan bahu jalan
Pengamen dan lagu lawas
Demi sesuap nasi, katanya
Samar terdengar suara burung bernyanyi
Terlihat dari kejauhan, seorang anak berseragam merah putih mengecup punggung tangan kanan ibunya
berjalan sumringah bersama kaumnya,
Seolah senyumnya beramanat,
"Hidup terlalu singkat untuk tidak bahagia"
Ah, Malas
: Yanti Puspita -- Juara 2 LPN2019
Jika hari ini aku mati
Aku tidak ingin berumah di tanah
Aku malas bertemu Tuhan
Kubur aku di tempat yang tidak Tuhan tahu
Pokoknya, Tuhan tidak boleh tahu
Rangkasbitung. 01 Juli 2019
Ragu
Bagiku ini bisa benar, jika dia-- yang kucinta sudah cukup bisu untuk tidak mengungkapkan cintanya.
Bahkan akupun sama.
Dengan adab dan kesadaran, Nio tak menyampaikannya.
Dan menunggu takdir dan waktu menikah, untuk melahirkan jawaban .
Bumbu Dunia
Pahit rasanya hidup tanpa dosa
Keabadian itu murahan!
yang manusia mau hanya kemewahan!
Malaikatpun tertawa karena kau minta surga
Seolah bayi tak tahu mahalnya surga
Membayarnya hanya dengan canda tawa
Makam Abah. 2019
Pemusik/Pemusyiq?
Sepi hati tiada arti
Bagaimana bisa kau bilang agama
Jikalau di otakmu hanya senggama
Oh, seriosa!
Berhenti dan pergi
Kau berthawwaf di khayalku setiap pagi
Terima kasih wahai pelunas lara hati
Makam Abah, 2019.
Puisi Untuk Ibu
Terlebur jadi abu semesta
Kalimat cinta dari bibirku yang hina
Tiada pernah cukup membelimu, Mama
Makam Abah, 2019.
Puisi Air Mata Malaikat
Mengusir penat
Bagai si Beringin yang lebat
mampu menyindir pelancong
Meski tanpa buah yang kuat
Ibu,
Ku bersumpah demi hidupku
yang sekejap
Kaulah air mata malaikatku
Makam Abah, 2019.
Puisi Guratan Sang Semut
Berjalan tanpa arah
Kaki-kaki kecil memimpin tak tentu
Sofa mewah tak kududuki
Kasur empuk tak kusinggahi
Tiada pernah kutanya Tuhan
akan tujuan hamba
Hei! Si perkasa
yang berdiri mendongkak disana
Sudahkah kita pasrah?
Makam Abah, 2019.
Puisi Curhat
Pencaharian lain tak ada
Kicuh buku aku tak tahu
Korupsi aku tak mahir
Berniaga aku tak pandai
Padaku hanya tikar pandan
Tempat berbaring tidur seorang
Kau minta tas atom
Padaku hanya kampir matur
Kau minta rumah indah perabit cukup
Lihatlah! Gubukku tiris
Kau minta kereta bagus
Aku hanya orang kecil
Apa dayaku
Kekayaanku hanya satu, dik
Hati yang luas tak bertepi
Cinta yang dalam tak terajuk
Guratan Mahesa
Rumah, 2019.
Puisi logika cinta
Rindu itu ilusi
Yang berumur abadi
Setiap hari selalu bercerita
Tentang seberapa jahatnya jarak
Tentu saja rindu dan cinta itu bersahabat
Jikalau Tuan mencintaiku karena rambut panjangku
Cinta tuan pasti pudar saat umur memotongnya
Jikalau Tuan mencintaiku karena pintarku
Cinta tuan pasti runtuh saat pikun merenggutnya
Jikalau Tuan mencintaiku karena harta
Cinta tuan pasti binasa saat kemiskinan menyapa
Rumah, 2019.
Puisi Ikan
Kau menguping tanpa jarak
Bersua antara acuh dan tak acuh
Burung elang menonton sebari menelan ludah
matamu terbelalak
tapi jasadmu tenang berkuasa
datanglah kau kemari
maukah kau jadi mursyidku?
Banten, 2019
Jokowi tidak baik atau Prabowo terlalu baik?
dan politik, teman baiknya
mereka terus bergulir pada lingkaran yang sama
hingga akhirnya mereka bertemu
maka, kita manusia
manusia yang dilabeli rakyat biasa
mengenal siapa mereka
lika-liku penuh drama
waktu menyukainya dan waktu mengaturnya
pada akhirnya uang berbicara
dan waktu menyetujuinya
wartawan mencari uang dari mereka
dari menara gading yang tinggi,
kita bisa mendengar suara uang tertawa
hingga sosok patriotis tanpa nama muncul
kamu takkan bisa seperti dia
semboyannya, dia tidak bisa kerja tanpa cari perhatian
jika politisi sekarang cari perhatian
ketika pasang mata berhenti, mereka berhenti
tapi dia, takkan berhenti cari perhatian
sampai mati, mengajaknya pulang.
selamatkan Indonesia.
kenapa Tuhan memberiku hidup
matahari tertawa saat mengetahui judul tulisan ini
seolah tiada cara lebih sopan dalam bertutur
tapi apalah aku
si bodoh yang terlalu bersahabat dengan dosa dan lupa
jika hidup ini tentang pahala
lantas kenapa kau marah ketika lelah
bukankah kau dambakan surga
dan meski oleh arsitek berkelas
bentuknya takkan terbayang
banggalah kalian,
wahai orang yang membuang harga diri
karena kalian tidak sedang berpikir tentang pahala
tapi kalian melaksanakan pahala itu
tanpa berpikir tentang surga
jika hidup ini tentang jatuh cinta
jelaskan padaku cinta seperti apa yang sebenarnya hatiku butuhkan
aku lelah mencari, curiga bahkan cemburu
semua asa sudah tiada
tersisa hanya sesal karena khianat
si palsu pun tertawa karena bahasa cinta
mereka hanya butuh uang, katanya
jika kau rakyat jelata, kau takkan dicinta olehnya, katanya
datanglah jemput hatiku cinta
berjalan cepat kemari
bahkan terlambatmu pun ku tunggu
jika hidup ini tentang kaya
sampai titik mana sebenarnya kekayaan itu
Bill Gates sampai hari ini belum merasa kaya
tapi kenapa kita dibilang bangsa yang kaya
apakah semua ini tentang uang
apakah Tuhanku dan Tuhanmu ingin kita mencari uang?
setelah ku dapat, harus kemana yang itu mengalir?
makananku berhenti karena kenyang
teknologiku berhenti karena bosan
wanita cantikku berhenti karena butuh yang lebih baik
rumah mewahku berhenti karena kurang mewah
ya Tuhan..
kaya itu seperti apa?
apakah orang fakir yang setiap hari tertawa lepas tanpa beban itu kaya
atau
apakah orang kaya yang setiap hari memikirkan perkembangan kekayaannya itu kaya
jawab aku malam ini, Tuhanku
obati kebodohanku dengan ilmuMu
karena bagiku, dunia ini bagai danau
kita semua, manusia, berada di dalam danau itu
berenang sambil mencari air
semua berkata 'susah amat ya cari air'
tanpa sadar mereka sedang mengambang diatas danau
aku tidak mencarimu
maafkan kesombonganku
aku lebih memilih mencari hal diluar danau daripada kebingungan mencari air di danau
salahkah aku, Tuhanku?
tentang Gareng
tentang Bagong
tentang Petruk
kaumku menyebutmu malas
tapi aku tidak
aku menyebutmu temanku
temanku yang suka menjajal kebolehanku
tentang Dia
orang bilang aku ini sombong
sombong karena gengsiku tinggi
mereka bilang
semua yang kuperbuat hanya untuk harta bahkan tahta
mereka pikir Tuhanku begitu miskin dan malas
hingga tak mampu
tak mampu mengurusku
si miskin ini
aku akui bahwa aku gengsi
gengsiku tinggi
sangat tinggi bahkan gedung mewah Dubai pun terlewat olehnya
tapi bukan untuk kalian
yang masih ngontrak di dunia
mereka juga bilang kalau aku malas
iya, aku malas mendengar ocehanmu
di warung kopi dengan uang receh dan tawa
kopi pun ditemani makan
tapi takkan kenyang
karena disana
mereka makan daging saudara mereka sendiri.
tentang Semar
PILIH BH UKURAN 36B ATAU ISI BH UKURAN 36B?
akhir
kenapa kalimat cinta ditemani kalimat jatuh
apakah ada jatuh yang tidak menyebabkan sakit?
salahku, semua ini awalnya salahku
karena membolehkanmu masuk ke hati
tinggal serta nyaman disana
padahal ku tak sadar
bahwa bisa kalajengking baru saja ku anggap air segar oase
'SEMUA WANITA SAMA SAJA BANGSATNYA!' Teriak salah satu pendemo zaman megawati.
kalimat itu jahat jika diberi kepada istri para nabi
kalimat itu baik jika melihat keadaanku sekarang
iya, sekarang
bisakah kau menoleh sedikit kepada pedangmu yang masih terhunus ini
kalimat indah dan janji cinta
itu semua menari di kepalaku
membuat simfoni indah dan tak ingin berhenti
sudah berjuta cara ku usahakan menghentikannya
apalah daya manusia mencari ujung pelangi
tapi cobalah kamu tengok
betapa hancurnya aku hari ini
pedangmu lah penyebabnya
semudah itu kau lempar madu ke lautan lalu kau bayar dengan penghianatan
salahku karena telah menganggapmu penghuni hatiku
padahal kau hanyalah sebilah kisah tuhan yang diciptakan untuk lelaki lain.
Apa itu surga?
Aku tak pernah percaya bahwa kau ada
Jika kau benar ada
Maka beritahu padaku
Di peta dunia sebelah mana kau tinggal
Aku percaya bahwa alamat surga itu ibu
Amarahnya adalah irama indah
Menari-nari di telingaku
Terulang tanpa henti
Ku harap itulah yang menemaniku saat ku sendiri
Di kegelapan kubur nanti
Banyak kawanku takut neraka
Maafkan aku wahai neraka dan segala kegarangannya
Ku yakin api mu akan padam oleh senyumnya
Iya, senyum ibu
Kawanku, takutlah jika ibumu hari ini tidak bahagia
Surgapun akan tertawa
tiap kau meminta izin mampir
Jika kau bertanya umpama
Maka jawabku sederhana saja
kau bagai ingin masuk surga tapi enggan mati
Awan & Kiona
Awan, pernahkah langit menolak keberadaanmu?
Cuma matahari yang berani mengusirmu
Tapi terkadang kalian justru saling bercumbu
Melahirkan seorang anak
Tidak silau
Kata orang, itu namanya
Kadang kau hitam acuh tak acuh
Sekali-kali kau juga bening cerah laksana embun pagi
Tapi acuh mu menghasilkan hujan untuk petani demi sepetak padi
Juga terkadang cerahmu membakar pengembala tanpa perduli
Kiona
Bahagiamu adalah bahagiaku,
Tenang saja
Aku tak akan mengganggu
Kamu bahagia dengan jalan ceritamu sendiri
Akupun sama
Jangan saling membenci
Sebab kita pernah saling membahagiakan satu sama lain, bukan?
Terimakasih atas waktumu
Kamu tetap menjadi awanku
Sampai nanti,
Aku pamit.
pekerjaan bergaji tinggi?
Indah nama, beda cerita. Kiona hanyalah anak yatim biasa. Ayahnya sudah tiada.
Kata dokter, rokok lah pembunuhnya, dokter lupa kalau manusia itu punya kemampuan bernama hawa nafsu.
Hari ke hari, Kiona hanya menjalani hidup bersama Mama nya, Hera.
Hera adalah ibu yang baik, belum pernah seharipun aku mendengarnya mengeluh butuh suami kalimat pujian ketus dari salah satu tetangga Hera.
Kiona hanya merindukan ayahnya, tiap malam Kiona berteriak dalam bisu
air mata menjadi teman setia Kiona
bagi Kiona ayahnya adalah teman terbaik
Seringkali Kiona mengutuk Hera dan menyalahkannya akan kematian ayah
tentu semua itu bukan sepenuhnya salah Hera, Kiona pun salah
Kiona tidak mau berdamai dengan dirinya sendiri
dan Hera patah hati, tiap kali melihat keluarga si ayah
dia cenderung menjauhi mereka
Kiona membenci Hera
berjalannya waktu, kebencian itu makin meluap karena Hera menjauh dari patah hatinya
iya, keluarganya, Hera anggap keluarganya adalah ranting dari patah hati itu
padahal akarnya adalah Hera itu sendiri
Waktu telah menipu Kiona, membuat Kiona lupa
bahwa tujuh belas tahun lalu Kiona tidak punya otot kuat untuk berjalan
gigi kokoh untuk makan
bahkan Kiona menyedekahkan kotorannya kepada Hera
Waktu tidak pernah menolong Kiona, bahkan tidak pula menyulitkannya
Waktu hanya menonton sampai tertawa
terkadang Waktu menangis
meminta kepada Tuhannya untuk diizinkan menolong Kiona
hingga tiba Waktu menyaksikan kedatangan seorang Peri mimpi
Waktu pun bertanya 'kenapa bentuk mimpi ini begitu aneh'
Peri mimpi memberi isyarat melalui telunjuk yang diletakkan dibibirnya
akhirnya Waktu pun mengerti bahwa dia harus bisu, seperti perintah Tuhan
Kiona bermimpi
tentang dirinya yang jatuh miskin, tanpa keluarga sama sekali
Hera dan ayah Kiona sudah tiada
hari harinya diisi oleh air mata dan cemas
Kiona ketakutan karena pagi ini hanya sarapan air mata
perut kecilnya terisi oleh teriakan lirihnya
iya, angin lah yang membuatnya kenyang
sampai tibalah dia berkeinginan untuk mencari pundi-pundi rupiah
kota menjadi tujuan utama
tanpa membaca dan perduli bekerja apa
Kiona memasuki bangunan tinggi yang berlapis marmer
lantai terbuat dari kaca
dan ada ribuan ikan penuh warna di bawahnya
pintu bertabur permata menyapa Kiona di bagian depan sebuah ruangan
'mungkin disinilah aku akan dapat yang ku mau' gumamnya,
masuklah ia tanpa memikirkan apapun
Kiona datang di ruangan yang dia pun tak tau itu dimana
sudah ada meja kayu mewah
beberapa buku tebal berserakan diatasnya
dan tak jauh dari meja serta bukunya, ada sosok hitam sedang membaca buku tebal lainnya
"Apa keperluan anda, anak kecil?" tanya sosok berjubah hitam, seolah sudah tau kedatangan Kiona
"a.. aku ingin bekerja disini" Jawab Kiona
"Apa anda punya keahlian?"
"mmhhmm, aku bisa mempromosikan kantor ini melalui popularitas dan kecantikanku!" Jawabnya dengan percaya diri
"Saya tak butuh itu!"
"ah? Tapi aku bisa membuat perusahaan ini menjadi lebih terkenal di mata dunia"
"Saya tak butuh itu!" lanjut sosok hitam "enyahlah anda dari sini!"
"...t.. tapi.. tolong terima aku tuan, aku rela bekerja apapun asalkan perut kosongku bisa terpuaskan"
sosok berjubah hitam pun hanya pergi dari Kiona, kembali lagi sambil membawa buku putih yang bercahaya, seraya bertanya "maukah kamu ku gaji sekantung emas tiap menit?"
"tentu!" lanjutnya "tapi apa pekerjaanku begitu berat?"
"dengarkan baik-baik, anda akan menjadi
seseorang yang bekerja tanpa libur
tanpa izin pulang tanpa izin sakit
anda harus bisa membuat obat-obatan ketika ada yang sakit
memasak makanan, membersihkan ruangan, jangan pernah marah
emosi bahkan memamerkan air mata, jika anda lelah
maka tersenyum, hanya itu yang bisa anda lakukan ketika lelah" jawab sosok jubah hitam
"Mohon maaf tuan, bukannya aku tidak sopan. Memangnya kerjaanku itu apa , ya?"
"Menjadi seorang ibu"
Kiona tersentak lalu bangun dari tidurnya, terlihat bantalnya basah air mata
bangunpun air mata Kiona masih bersemayam di kelopak mata
tanpa memperdulikan penampilannya, Kiona lari mencari Hera
tidak ada yang terpikirkan di benaknya kecuali paras ibunya itu
ditemuinya, Hera sedang memasak di dapur
Kiona memeluknya dengan baju tidurnya
Hera pun kebingungan, tapi Kiona terus menerus memeluknya sambil meminta maaf
Dari kejauhan Peri mimpi tersenyum bersama waktu
mulai hari itu, Peri mimpi dan waktu setuju
kalau menjadi ibu
adalah pekerjaan sepanjang masa.
Tiga Puisi Untuk Kiona #3
Tiga Puisi Untuk Kiona #2
salahku karena merelakanmu pergi
sejujurnya,
aku ingin mengajakmu bicara sampai larut
menonton indah senyum tipismu
memelukmu hingga nyawaku melarangnya
tapi ku tak bisa,
inginku melarang pergimu
namun apa daya, api tidak bisa melarang kayu untuk jadi abu
meski api masih ingin bersamanya.
Tiga Puisi Untuk Kiona #1
tulang rusuk?
"aku sudah pernah merasakan semua kepahitan, tapi yang paling pahit adalah berharap kepada manusia" sahabat nabi, Ali.
tajamnya kalimat itu menusuk bagai anak panah dari kejauhan.
seperti baru saja ada ribuan taring ular tertancap di dadaku.
---
sikapmu merusak rasa yang ku bangun bata demi bata.
dan kamu membawa palu derita, menghancurkan menara rasaku
sambil tertawa seraya berkata 'cintamu tiada harganya!'
bukan hanya hancur, tapi rasaku sudah nihil kemungkinan untuk dibangun kembali
---
'Rumaysho, aku ingin menjadi suamimu!' teriak Amiek, tapi Rumaysho hanya cerita masa lalu yang belum tentu Tuhan membuatnya untuk kedua kali
---
inginku memintamu untuk bersamaku, tapi apa daya, aku hanyalah si tolol yang kosong akan pengetahuan.
iya, benar, tolol.
karena kebohonganmu saja tak ku sadari.
---
seharian ku hanya teriak dalam sunyi
menangis tersedu dalam bisu
marah dan cemburu tak bersuara
orang sekitarku bertanya aku kenapa, hanya senyum palsu yang kupamerkan sebagai jawaban
---
aku iri pada Adam
lelaki yang belum pernah patah hati karena pujaan hati
dan Hawa
hadir ke dunia ini sebagai tulang rusuknya
betapa bahagia
---
Aku
anak Adam yang telah menjual jiwa dan hatinya kepada wanita yang tak perduli betapa aku mencintanya
---
hilang arah
tulang rusukku tidak jelas dimana
dan hari ini
sakit rasanya ketika aku tau tulang rusukku bukanlah dia
---
Tuhan, aku punya pesan untukmu
sadarkanlah jiwaku
dari malapetaka wanita
---
ku pikir telah meminum secangkir anggur cinta dan mabuk bersama orang yang benar
ternyata tidak
---
cinta buta, kalimat itu benar adanya
kamu, tulang rusukku
dimana kau berada?
Poligami
Life is only once, your life partner too.
hidup cuma sekali, pasangan hidupmu juga.
Salah satu tulisan yang terlihat dari baju anak muda yang antre di depan Amiek.
Perkenalkan, Amiek, lelaki umur sembilan belas tahun yang pola pikirnya terlampau jauh dari manusia seumurannya, disaat teman-temannya berpikir untuk kalimat romantis di sosial media, Amiek justru sudah jauh berpikir, dia--Amiek hobi diam dirumah bersama Mama, tiap malam memijat kakinya, sesekali curhatan hati Mama nya terdengar
"Mama ingin kamu punya istri yang bisa faham cara urus rumah, bukan cuma faham urus dandan"
Mendengar lontaran itu dari Mama nya, Amiek tertegun dan berkata dalam diam.
Memangnya wanita baik itu ciri nya apa
Amiek menyeleksi teman wanita nya lewat kepala nya sendiri,
Dian, wanita pemalu yang tidak banyak bicara, biasanya Dian memakai kerudung panjang rapi tanpa cadar, Dian cuma liburan ke toko buku atau ke tempat sepi lainnya, bukan sombong, tapi memang Dian menolak keramaian, tapi Amiek pernah melihat Dian tertawa kencang karena mendengar gosip hangat dari temannya, Amiek pun sadar bahwa wanita baik bukan hanya dinilai dari hijabnya.
Ayu, wanita jawa periang yang pintar dan supel, jago berpresentasi makalah apapun, Amiek pun pernah jatuh cinta pada cara Ayu membenahi kerudung setengah syar'i nya, sederhana tapi menarik, bahkan tiada kalimat yang cocok untuk menjelaskan keindahan itu. bagi Amiek, Ayu adalah wanita baik untuknya, namun ketika Amiek menyaksikan Ayu menangis tersedu hanya karena hal sepele. Amiek sadar bahwa Ayu mengkhianati sifatnya sendiri.
Ara, berkarakter jepang, cantik dan berponi, namun bukan hanya itu yang Amiek cari, Ara cukup tidak konsisten dalam bersikap, kadang Ara diam kelabu, kadang juga ceria penuh warna, tapi karena Amiek bodoh, Amiek tidak memperdulikan semua itu. Amiek pikir hidupnya lima puluh tahun kedepan akan bahagia bersama wanita tanpa hijab tapi bergaya jepang itu. ternyata palsu, karena Ara patahkan konsistensi gaya jepangnya untuk seorang artis barat, Greyson Chance, bukan salah artis baratnya, salah Ara. Kenapa dia berbohong dengan dirinya, tunggu, atau ini semua salah Amiek, egois dengan prinsipnya?
Dalam satu sesi, Amiek sedang memijat kaki ibunya, Amiek memberanikan mulutnya untuk bergerak. Dan mulut pun menyetujuinya, "Ma, poligami itu kenapa ya--"
"Kenapa kamu harus bertanya seperti itu?" Mama, memotong.
"Maksudnya, kenapa poligami itu harus seratus persen tentang menjaga perasaan, padahal kan tidak ada salahnya ngobrol bertiga bersama-sama"
"hei biarpun bapakmu dulu susah, bapak susah bareng Mama!" lanjutnya, "Masa tiba-tiba ada orang lain menikmati kesuksesannya!"
Amiek pun diam, dengan dua alasan dan satu pertanyaan.
alasan pertama, Amiek takut dianggap bahwa Amiek adalah tim sukses agar bapak nikah lagi, alasan kedua Amiek sadar bahwa wanita baik itu bukan distandarkan dari seberapa ramah pembawaannya, jepang prinsipnya pun tak membuat wanita itu jadi wanita baik, begitu pula kerudung panjang, jika itu membuat wanita menjadi merasa suci, mereka lupa, bahwa ada cacing tanah menunggunya.
pertanyaan ---
lalu, seperti apa wanita baik itu?






