Jokowi, Oligarki dan Warung kopi



Mahesa bukan seorang mahasiswa, namun sangat memantau perkembangan dunia, melalui telepon genggamnya atau terkadang koran-koran yang dijual Pak Mandra, sopir bis yang berakal aktivis, tentu saja terkadang Pak Mandra menjadi teman diskusi Mahesa, tidak di ruang rapat apalagi gedung, namun warung kopi.

Ayah



Aku pernah membuatmu marah,sangat marah sampai lupa bahwa aku anakmuTak apa,
aku yakin engkau berniat baik

Sulit bagiku untuk mengaku,
bahwa hati ini rindu
Tapi lisan ku selalu membeku
Tiada kata rayuan rindu,
aku yakin ayah pun begitu

Ayah bilang,
dunia ini cuma tentang waktu
Entahlah, aku tak paham.
Semoga kau berumur panjang

Jika kematian mengetuk pintumu lebih dulu,
maka ku harap
Ragaku menolak kesedihan
Aku akan mendoakanmu, tanpa harus merindu
Bukankah di kita manusia, saat di perut bumi
itu lebih butuh doa daripada air mata?

Mahesa & Bapak


"Pak" Sahut Mahesa sebari membenahi posisi duduknya lantas mengambil remote tv "Aku semalem mimpi"

"Basah?" Jawab Bapak, santai.

"Mimpi Bapak meninggal"

Suasana petang, hiruk pikuk burung yang berlalu-lalang pun lantas sepi layaknya sebuah peradaban yang hancur oleh asteroid.

"Aku nangis, lho"

"Kan cuma mimpi" Jawab Bapak, lagi

"Iyasih" Mahesa berhenti menekan remote "Aku cuma gamau nangis di masa depan"

"Lho, kalau Bapak mati, kamu nggak nangis, le?"

"Iya"

"Kenapa?"

"Wah, ada dua sebab pak!" Kata Mahesa sambil tertawa kecil

"Apa?"

"Pertama, karena aku sudah nangis nangis saat bangun tidur. Kedua, aku mau doain Bapak, supaya malaikat pintu neraka libur dulu"

Bapak tersenyum tipis.

"Terus bapak gak didoain supaya masuk surga?"

"Hmm, masuk angin aja, Pak!"

Percakapan indah sore berakhir dengan Mahesa bangun dari tidurnya,
Bapak sudah diperut bumi sejak tujuh tahun lalu.


Diktator


Aku mencintaimu
Tapi jangan percaya,
Karena jarak melarang raga
untuk bersama

Sayang, aku sendiri tak bisa
tak bisa menyogok waktu
untuk mengikuti mauku

Dan, kumohon jangan salahkan aku
atas apa yang diperbuat oleh takdir

—Mahesa, 2019

Laila



Wahai Layla kekasihku


Berjanjilah pada keagungan cinta agar sayap jiwamu dapat terbang bebas

Melayanglah bersama cinta laksana anak panah menuju sasaran

Cinta tidak pernah membelenggu

Karena cinta adalah pembebas, yang akan melepaskanbuhul-buhul keberadaan


Cinta adalah pembebas dari segala belenggu

Walau dalam cinta, setiap cawan adalah kesedihan

Namun jiwa pecinta akan memberi kehidupan baru

Banyak racun yang harus kita teguk untuk menambahkenikmatan cinta


Atas nama cinta, racun yang pahit pun terasa manis

Bertahanlah kekasihku, dunia diciptakan untuk kaum pecinta

Dunia ada karena ada cinta



(Bab II, hlm. 16-17, situasi ketika Qays dalam kerinduan memuncak mengendap-endap ke rumah Layla, seraya menciumi rumah mawar itu dengan derai airmata membasahi pipi. Ia melantunkan syair ini, tak peduli apakah Layla mendengar atau syairnya tertelan dinding rumah)

Anekdot Malaikat #2

"Il! Kamu dapet jadwal cabut berkas perizinan hidup untuk customer bernama Mahesa bin Yadi, malam nanti" Seru sang waktu kepada Izroil

"Tenang, ini kan masih pagi" Jawab Izroil

Mahesa bukan konglomerat ataupun cendikiawan. Namun hanya sebilah anak muda yang baru menginjak dua puluh tahun bulan ini, tepatnya beberapa hari yang lalu, tapi maut sudah kangen ingin bertemu.

Hobi Mahesa itu tidur, daripada berbicara ngelantur bersama kawan, itu membuat penyakit vertigo yang ia derita jadi kambuh. Jadi, Mahesa hanya bersahabat dengan buku bacaan, berteman dengan bantal dan tertawa bersama kesunyian.

"Kok si Mahesa sudah harus dicabut, ya?" Tanya sang waktu.

"Lho, yang tahu betul jadwalku itu, bukannya kamu, ya?" Timpal Izroil

"Yo sih, piye to, tugasku iku cuma broadcast dari kerjaanmu aja, Il"

"Iyo ya, yowis" Perdebatan kecil pun terhenti.

Hari menjelang siang, matahari bergerak cepat bagai roda sepeda yang hanya menuruti kemauan pengayuh pedal. Hingga sore disambut penghuni bumi, terlihat oleh Izroil bahwa mahesa membantu ibu Ani penjaga warung untuk mencuci piring, hatinya kosong, bahkan tak berharap pahala apalagi surga, yang Izroil lihat hanyalah hati yang dipenuhi rasa ingin semua makhluk buta dan hanya ia bersama Tuhan menyaksikan kebajikannya.

Malam tiba, Izroil diminta pulang oleh Qodho dan Qodar.

Anekdot Malaikat

Jibril mengantar rizki, kadang berupa kenyang untuk si lapar, kadang hanya sekedar dua ribu rupiah yang dilempar pejalan kaki kepada pengemis di pinggir teras masjid.

Hari rabu itu, sasaran Jibril adalah Mahesa,
anak muda pencinta kucing, kalimat cinta disini, penulis gunakan karena Mahesa menyayanginya bagai kucing adalah teman hidupnya, dia lebih mencintai mereka daripada perutnya sendiri, Mahesa juga menyayangi air minum bekas gurunya, memang aneh kepercayaan bocah beralis tebal itu.

"Hei, Bril. Nanti rabu jam tiga sore jadwalmu itu ngirim paket untuk customer atas nama Mahesa bin Yadi, Ingat ya!" Sahut sang waktu kepada Jibril.

"Ok, Wak. Tapi bagaimana kalau si Mahesa bin Yadi itu tidur?" Timpal Jibril

"Ya mungkin Lauh Mahfuz maunya gitu, Bril"

"Memang opo to isi rizki ne?" Lanjut Jibril sebari menengok ke arah rizki.

"Tadi ku intip sih hanya obat diare karena Mahesa sedari hari minggu lalu mencret-mencret. Kasian, Bril!" Mendengarnya, Jibril pun mengangguk.

"Bril, wis jam dua iki, siap-siap gih"

"Ok"

Bergulir waktu, Jibril berangkat dinas pukul dua, dan sudah datang ke tempat Mahesa. 
Terlihat Mahesa tertidur pulas karena lelah bolak-balik kamar mandi. 
Jibril menunggu sampai jam tiga sesuai jam kerja, namun Mahesa tak kunjung melotot.


Jibril pergi.

Mahesa memancing

Bocah dekil berprawakan kurus, kakeknya menamai bocah itu Mahesa, sering kali berjualan di pasar dan tertawa bersama tukang plastik kresek hitam

Mereka bertemu di tempat kumuh itu, tiap fajar masih tidur.

"Kamu gak ngopi dulu?" Tanya tukang plastik

"Uangnya dipake untuk beli obat kakek" jawab Mahesa

"Lha, memangnya kakekmu yang sakti itu bisa sakit juga?"

"Bukan kang, untuk obat laparnya" Mahesa tertawa lalu pergi.

Bukanlah orang kaya atau saudagar, tapi Mahesa hanya orang sadar, sadar diri kalau dirinya hanya daging berjalan, jika hidup tanpa kakeknya.

Keseharian Mahesa hanyalah memancing dan berpetualang sebari bertanya kepada alam.

"Heh! Anak kecil!" Sahut orang bertato

"Iya, pak?"

"Sini uangmu!"

"Gak ada, pak. Mungkin nanti siang setelah aku jual ikan, uangnya ku kasih bapak ya"

Bagai ribuan taring kobra baru saja menusuk jantungnya, lantas berdebar kencang seperti akan terbakar.

Mulutnya sepi terkunci, otaknya tak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi.

Mahesa kebingungan karena orang bertato itu hanya mematung, lantas Mahesa pamit memancing.
Tahun tujuh tujuh itu kelahiran Mahesa, lahir dalam keadaan miskin harta dan tak berbaju, orang tuanya menamai Mahesa karena itu adalah merk sepeda terkenal pada masanya, berharap Mahesa jadi orang terkenal dan kaya karena keterkenalannya. Sayangnya, hanya ikan-ikanlah yang mengenalnya.













"Apa jangan-jangan, Ustad Darmi itu bohong ya" Sahut akal sehat Mahesa "Jangan-jangan, neraka yang diceritakannya kemarin sore itu cuma bohong, lalu disinilah neraka, di dunia"

Percakapan yang dimulai dengan dirinya sendiri itu dimulai di pinggir sungai Ciliwung disaksikan oleh air dan kail pancing, 

"Iya ya, lantas kalau di neraka itu susah, toh di dunia juga susah, nah! berarti orang-orang ada di neraka hari ini!"

Bocah kecil penyendiri itu menarik kail nya dan memasukkan ikan kedalam plastik putih. Lalu pergi.

Neraka itu murah!

Arid biasa sarapan ketika matahari terbenam,
di warung Ibu tua yang terus menerus mengkhawatirkana anak sulungnya yang pergi jauh untuk mencari uang.

"Aduh kang, anak ku sendirian keluar pergi malam terus kadang jam tiga pagi bisa belum datang, kasian" Sahut Ibu.

"Atuh kalo kasian mah suruh nganggur aja biar rebahan setiap hari" Jawab Arid, cendikia jenaka yang berusaha mencairkan isi kepala Ibu.

"Memangnya akang gak mau kerja untuk punya uang?"

"Lho, bukannya ini kerjaanku bu?"

"apa kang?"

"Makan di warung mu"

Terdengar gelak tawa dari pengunjung toko baju sebelah warung Ibu.

"Aku iku gini lho bu ya, kalo aku diem bukan berarti aku ora kerja, dan kalo putri ibu kerja bukan berarti beliau terus-terusan kerja di kerjaannya, ngono bu!"

"Ooo iyo ya kang" 

Lantas Ibu menceritakan temannya Arid yang sering ngutang, karena temannya itu orang wetan maka beliau nguntang dengan prosedur nganjuk, tapi tidak ekstrim sampai puluhan juta, cuma kerap kali menganjuk satu tempe mendoan seharga seribu rupiah dan dibayar esok hari.

"Wah cerdas juga temanku itu bu!"

"Gak lah! Mana ada orang ngutang bisa cerdas!" Ibu menjawab sambil sedikit marah "Ngene mas! kata guru ku kalau dosa zina itu masih bisa diampuni, tapi kalau hutang itu gak bisa diampuni!"

"Wah, apa malaikat gak punya uang seribu untuk mbayari gorengan temanku ya?"

Ibu yang tadinya ngotot pun jadi tersenyum malu.

"Lho iyo ya bu, aku juga kepikiran nih"

"apa kang?"

"Kalau temanku ngutang seribu hari ini dan niat mbayar besok, terus dia kan gak mbayar berarti ya hari ini, jalan lah dia ke asrama, lalu mati, eh koyok ngene itu masuk neraka kan, dan pasti minder masuk neraka nya"

"Lho kok minder masuk neraka nya, kang?

"Aduh ibu ini bagaimana sih, kan orang masuk neraka karena dosa besar to?"

"Iyo" jawab ibu sebari manggut-manggut kebingungan.

"Nah temanku masuk neraka karena uang seribu"

Untukmu

Tiba-tiba
malam mengantarkan kereta
kereta kecil nostalgia
mengajakku untuk mengingatmu

Akal sehatku di tariknya
berkelana pada semesta
yang tak diizinkan waktu
untuk terulang kembali.

Banten, 2019

dunia hari ini

Perkotaan malam berkilau,
sampai sang fajar mengusir kilauannya
Ku ukir kata demi kata ini ketika ia belum tiba
Pukul enam, semerbak aroma embun pagi
Lembut menyapa sukma sekawanan pengendara kuda bermesin
Buruh berwajah letih, berhamburan mengejar waktu
Kakek tua berbaju kumuh bersimpuh pasrah pada pangkuan bahu jalan
Pengamen dan lagu lawas
Demi sesuap nasi, katanya
Awan berjalan tanpa kaki
Samar terdengar suara burung bernyanyi
Terlihat dari kejauhan, seorang anak berseragam merah putih mengecup punggung tangan kanan ibunya
berjalan sumringah bersama kaumnya,
Seolah senyumnya beramanat,
"Hidup terlalu singkat untuk tidak bahagia"

Ah, Malas

Ah, Malas
: Yanti Puspita -- Juara 2 LPN2019

Jika hari ini aku mati
Aku tidak ingin berumah di tanah
Aku malas bertemu Tuhan

Kubur aku di tempat yang tidak Tuhan tahu
Pokoknya, Tuhan tidak boleh tahu

Rangkasbitung. 01 Juli 2019

Ragu

aku tak perlu pernyataan cintamu, yang kuperlukan adalah engkau mencintaiku, kata Pepatah instagram

Bagiku ini bisa benar, jika dia-- yang kucinta sudah cukup bisu untuk tidak mengungkapkan cintanya.
Bahkan akupun sama.

Beberapa kali takdir menawarkan penggantimu tapi aku menepisnya dengan rinduku padamu.
Bagai Perancis tanpa Eiffle, sepi dan kesepian, kosong dan dikosongkan. Perancis adalah rumah yang Eiffle dambakan, dan Eiffle selalu bersamanya meski paham betul bahwa eksistensinya hanya pada selembar kertas foto.

"Mereka mencintai, benar kan, Pak?" tanya Nio pada bapaknya,

"Ah, kamu bisa aja narasi nya, memang, lelaki muda yang sedang jatuh cinta selalu dekat dengan malaikat gombal!" lantas keduanya pun tertawa.

"Pak, apa kalau kita jatuh cinta pada seseorang, kita harus menikahinya?"

"Kamu itu pura-pura polos atau pura-pura bodoh?"

"Nganu-"

"Kalo kamu mencintai puisi, artinya kamu harus menikahi puisi, dong!" Bapaknya tersenyum.

Nio masih belum puas dengan jawaban bapak.
Dengan adab dan kesadaran, Nio tak menyampaikannya.

Dan menunggu takdir dan waktu menikah, untuk melahirkan jawaban .


'lantas, jika mencintai berarti menikahi, artinya Bapak akan menikahiku, karena Bapak mencintaiku sebagai anaknya'

'lantas, jika Pak Mushab memiliki sapi, menjaganya seperti Pak Mushab mencintainya, apakah ia harus menikahi sapi itu?'

'Wah, sepertinya aku terpenjara di kepalaku sendiri'

Akhirnya, dengan menggandeng kebingungan, Nio berjalan keluar rumah, pergi dari beranda manusia, beranjak ke pepohonan rindang dekat sawah milik Pak Mushab sebari mendengarkan lagu-lagu angin sore yang ditiupnya perlahan.

Takdir dan waktu beranak lagi,
sepasang burung dara 'bercinta' di atas langit, tak malu pada langit, mereka telanjang. Tapi malu telah sirnah dari pikiran, terganti oleh cinta yang tak bertepi.

Lantas Nio berpikir tentang, kapan mereka jatuh cinta, untuk apa mereka jatuh cinta.
oh ya, nafsu.

Nio masih berpikir, tak terasa matahari sudah hampir tidur.
Sambil berjalan, pikirannya terus berterbangan jauh keatas atmosfir Arsy, mengetuk pintunya untuk mengemis jawaban,
'Jika dokter butuh orang sakit untuk bekerja'
'Pemadam kebakaran butuh api untuk beraksi'
'Guru butuh orang bodoh untuk berkarir'
'Bos butuh pekerja untuk berkarya'
'Produsen bukan apa-apa tanpa konsumen, tapi aku hanya bertanya cinta, apa dan kenapa aku harus mencintai seorang gadis, nafsuku yang sekejap ini, tentu akan hancur dengan tidurku, cantikmu pun hanya sehari tentu akan digerogoti waktu, pundi hartamu tak berguna karena tak bisa membeli cintaku'

Sedekahkanlah kata-kata cintamu yang manis itu, kepada orang yang lebih membutuhkan,
karena, yang ku butuhkan adalah engkau mencitaiku

Lalu adzan maghrib mengusir Nio.

Bumbu Dunia

Hambar rasa dunia tanpa harta
Pahit rasanya hidup tanpa dosa
Keabadian itu murahan!
yang manusia mau hanya kemewahan!

Malaikatpun tertawa karena kau minta surga
Seolah bayi tak tahu mahalnya surga
Membayarnya hanya dengan canda tawa

Makam Abah. 2019

Pemusik/Pemusyiq?

Lantang terdengar lantunan ayat
Sepi hati tiada arti
Bagaimana bisa kau bilang agama
Jikalau di otakmu hanya senggama

Oh, seriosa!
Berhenti dan pergi
Kau berthawwaf di khayalku setiap pagi
Terima kasih wahai pelunas lara hati

Makam Abah, 2019.

Puisi Air Mata Malaikat

Dunia sempit jadi muat
Mengusir penat
Bagai si Beringin yang lebat
mampu menyindir pelancong
Meski tanpa buah yang kuat

Ibu,
Ku bersumpah demi hidupku
yang sekejap
Kaulah air mata malaikatku

Makam Abah, 2019.

Puisi Guratan Sang Semut

Curhatan Sang Semut

Berjalan tanpa arah
Kaki-kaki kecil memimpin tak tentu
Sofa mewah tak kududuki
Kasur empuk tak kusinggahi

Tiada pernah kutanya Tuhan
akan tujuan hamba
Hei! Si perkasa
yang berdiri mendongkak disana
Sudahkah kita pasrah?

Makam Abah, 2019.

Puisi Curhat


Hanya hati, 1948

Gajiku kecil
Pencaharian lain tak ada
Kicuh buku aku tak tahu
Korupsi aku tak mahir
Berniaga aku tak pandai
Kau minta permadani
Padaku hanya tikar pandan
Tempat berbaring tidur seorang
Kau minta tas atom
Padaku hanya kampir matur
Kau minta rumah indah perabit cukup
Lihatlah! Gubukku tiris
Kau minta kereta bagus
Aku hanya orang kecil
Apa dayaku
Kekayaanku hanya satu, dik
Hati
Hati yang luas tak bertepi
Cinta yang dalam tak terajuk

>Buya Hamka

Guratan Mahesa

"Mahesa, nak kemarilah," Lanjut ibunya "Berjalanlah lebih cepat jangan seperti keong lapar!"

Anggukan Mahesa jadi jawabannya
Anak sekolah dasar itu bercengkrama dengan ibunya sebari membawa kotak makanan kecil dan tas berwarna biru tua,
berangkat sendirian sambil menonton awan bercakap
"Mahesa, kamu nonton tv gak semalem?"

"Aku langsung tidur, karena kata ibu nanti hafalanku akan terganti oleh acara tv kalau nonton sebelum tidur" 

"Payah!" Temannya berjalan melewati Mahesa.

Mama sengaja tidak pernah mengantar Mahesa agar dia bisa berjalan sendirian dan tidak manja, justru karena itu, Mahesa lebih sering berpikir daripada bicara. Terkadang Mahesa berbicara pada dirinya sendiri, seolah kesepian telah menjadi sahabatnya.

Jengkleek..
Suara pintu tertanda Ayah pulang.

"Ayah bawa hadiah untuk Mahesa" Sahut ayahnya sebari tersenyum.
Mahesa membuka kresek hitam itu dan melihat robot berwarna abu-abu, di samping itu ada buku kecil berjudul Rahasia dari rahasia - Siti Jenar.

Ayah lantas pergi ke dapur untuk makan bersama Mama.

Polosnya, Mahesa membalik buku itu dan membaca tulisan di punggung buku, kalimatnya:
Dunia ini hanya sejam! Akulah saksinya, kata Siti Jenar

Benak Mahesa menjawab dengan polosnya, Masa Sih?
Lantas tiada peduli lah Mahesa pada buku itu lalu pergi makan.

"Ayah, siapa itu siti jenar? Kenapa dia bilang hidup cuma sejam?" Pagi hari menjadi waktu yang pas untuk bertanya, karena Mahesa takut Ayah marah setelah lelahnya bekerja.

"Itu manusia biasa, tapi beliau benar"

"Kalo gitu kita ngapain disini, Yah?"

"Maksudmu piye to, le?


"Enggak, cuma nanya"

Ayahnya menyalakan motor lantas tidak memperdulikan pertanyaan yang baginya konyol itu,
Sementara Mahesa masih termenung memikirkan kalimat yang tadinya akan dia tanyakan kepada Ayahnya, Kalau hidup cuma sejam, kenapa Mama buru-buru dan Ayah marah terus tiap pulang kerja?

Mama berteriak dari dapur.
Mahesa kembali kepada rutinitasnya.

Rumah, 2019.

Puisi logika cinta

Hari ini ku mengerti
Rindu itu ilusi
Yang berumur abadi
Setiap hari selalu bercerita
Tentang seberapa jahatnya jarak

Tentu saja rindu dan cinta itu bersahabat
Jikalau Tuan mencintaiku karena rambut panjangku
Cinta tuan pasti pudar saat umur memotongnya
Jikalau Tuan mencintaiku karena pintarku
Cinta tuan pasti runtuh saat pikun merenggutnya
Jikalau Tuan mencintaiku karena harta
Cinta tuan pasti binasa saat kemiskinan menyapa

Rumah, 2019.

Puisi Ikan

Percakapan bisu antara air dan batu
Kau menguping tanpa jarak
Bersua antara acuh dan tak acuh
Burung elang menonton sebari menelan ludah
matamu terbelalak
tapi jasadmu tenang berkuasa

datanglah kau kemari
maukah kau jadi mursyidku?

Banten, 2019

Jokowi tidak baik atau Prabowo terlalu baik?

bagiku waktu adalah salah satu ilusi yang egois
dan politik, teman baiknya
mereka terus bergulir pada lingkaran yang sama
hingga akhirnya mereka bertemu
maka, kita manusia
manusia yang dilabeli rakyat biasa
mengenal siapa mereka
lika-liku penuh drama
waktu menyukainya dan waktu mengaturnya
pada akhirnya uang berbicara
dan waktu menyetujuinya
wartawan mencari uang dari mereka
dari menara gading yang tinggi,
kita bisa mendengar suara uang tertawa
hingga sosok patriotis tanpa nama muncul
kamu takkan bisa seperti dia
semboyannya, dia tidak bisa kerja tanpa cari perhatian
jika politisi sekarang cari perhatian
ketika pasang mata berhenti, mereka berhenti
tapi dia, takkan berhenti cari perhatian
sampai mati, mengajaknya pulang.


selamatkan Indonesia.

kenapa Tuhan memberiku hidup

matahari tertawa saat mengetahui judul tulisan ini
seolah tiada cara lebih sopan dalam bertutur
tapi apalah aku
si bodoh yang terlalu bersahabat dengan dosa dan lupa

jika hidup ini tentang pahala
lantas kenapa kau marah ketika lelah
bukankah kau dambakan surga
dan meski oleh arsitek berkelas
bentuknya takkan terbayang
banggalah kalian,
wahai orang yang membuang harga diri
karena kalian tidak sedang berpikir tentang pahala
tapi kalian melaksanakan pahala itu
tanpa berpikir tentang surga

jika hidup ini tentang jatuh cinta
jelaskan padaku cinta seperti apa yang sebenarnya hatiku butuhkan
aku lelah mencari, curiga bahkan cemburu
semua asa sudah tiada
tersisa hanya sesal karena khianat
si palsu pun tertawa karena bahasa cinta
mereka hanya butuh uang, katanya
jika kau rakyat jelata, kau takkan dicinta olehnya, katanya
datanglah jemput hatiku cinta
berjalan cepat kemari
bahkan terlambatmu pun ku tunggu

jika hidup ini tentang kaya
sampai titik mana sebenarnya kekayaan itu
Bill Gates sampai hari ini belum merasa kaya
tapi kenapa kita dibilang bangsa yang kaya
apakah semua ini tentang uang
apakah Tuhanku dan Tuhanmu ingin kita mencari uang?
setelah ku dapat, harus kemana yang itu mengalir?
makananku berhenti karena kenyang
teknologiku berhenti karena bosan
wanita cantikku berhenti karena butuh yang lebih baik
rumah mewahku berhenti karena kurang mewah
ya Tuhan..
kaya itu seperti apa?
apakah orang fakir yang setiap hari tertawa lepas tanpa beban itu kaya
atau
apakah orang kaya yang setiap hari memikirkan perkembangan kekayaannya itu kaya
jawab aku malam ini, Tuhanku
obati kebodohanku dengan ilmuMu

karena bagiku, dunia ini bagai danau
kita semua, manusia, berada di dalam danau itu
berenang sambil mencari air
semua berkata 'susah amat ya cari air'
tanpa sadar mereka sedang mengambang diatas danau
aku tidak mencarimu
maafkan kesombonganku
aku lebih memilih mencari hal diluar danau daripada kebingungan mencari air di danau

salahkah aku, Tuhanku?

tentang Gareng

singa menerka sebelum menerkam
walaupun ia hebat dan ganas
terburu-buru membuatnya terlihat amatir
dengan lapar memberontak
ia mengelus si perut yang protes minta makanan
tentu saja dengan ketenangan

kita semua adalah singa
dunia pun jadi mangsa
tiada hari tanpa derita
semua kesusahan terjadi disini
dan akan berlipat
ketika singa menerka mangsa dengan amatir

hati-hati berlebihan itu penakut
kurang hati-hati adalah ceroboh
indonesia ini lebih luas dari visi misimu
janji manis dan kalimat puitis saja tak cukup

tentang Bagong

jangan pernah kau pikir
bahwa mursyidmu hanyalah dia
yang membawa tasbih sebesar telur ayam
dan kepala dilindungi surban
kau pikir, mereka dibawah tak bisa?!
mereka si cacing tanah pun bisa
jadi mursyid mu
tapi kamu lah si sombong
yang nanti akan dimakan oleh mereka
mursyid yang tak pernah kau pikirkan

aku marah padamu
jika orang sakit kau tertawakan
sadarkah malaikat sedang jadi anak buahnya
apa perlu Jibril melempar gunung
ke wajahmu
untuk menutupi kesombongan itu

anak muda tunjukkanlah
marahmu ketika agama menjadi murah
ustaz dan kyai menjadi profesi
bukan tentang ilahi

marahlah, marah hingga darahmu mendidih
ketika tanah kuburan menjadi taman
serta orang kaya tertawa bersama segelas vodka
apa itu kurang mengundang marahmu, hai calon mayat?!

tentang Petruk

Hai kamu, makhluk yang bersemayam di dalam jiwa
kaumku menyebutmu malas
tapi aku tidak
aku menyebutmu temanku
temanku yang suka menjajal kebolehanku
tentang Dia

orang bilang aku ini sombong
sombong karena gengsiku tinggi
mereka bilang
semua yang kuperbuat hanya untuk harta bahkan tahta
mereka pikir Tuhanku begitu miskin dan malas
hingga tak mampu
tak mampu mengurusku
si miskin ini

aku akui bahwa aku gengsi
gengsiku tinggi
sangat tinggi bahkan gedung mewah Dubai pun terlewat olehnya
tapi bukan untuk kalian
yang masih ngontrak di dunia

mereka juga bilang kalau aku malas
iya, aku malas mendengar ocehanmu
di warung kopi dengan uang receh dan tawa
kopi pun ditemani makan
tapi takkan kenyang
karena disana
mereka makan daging saudara mereka sendiri.

tentang Semar

Semua orang bicara perdamaian
sibuk mencari tokoh tanpa perduli figur
memecah masalah dengan masalah

pernahkah kamu memegang air yang sama di aliran sungai?
tentu tidak
itulah kejujuran,
dan saudaranya demikian jua
iya, saudaranya si kepercayaan

ayo kita tertawa melihat Al-Ikhlash
kenapa dia labeli dirinya ikhlash
padahal isinya tidak
oh, atau dia sedang menyindirku
semoga aku dan kamu tersadar sayang

orang buta, dimanakah engkau
datang kemari dan urus semua ini dengan hati
mereka merusak yang kau ukir
membawa sebilah kayu cokelat 
menghantam hasil pahatanmu
dan teriak
"inilah karyaku!"
tapi itu hanyalah serpihan kecil dari karyamu, orang buta

wanita juga sama saja
bersembunyi dibalik senyum manis menghipnotis
membawa racun yang disukai lelaki
kebohongan jadi menu utama
jika terungkap,
mereka akan menangis sambil memohon
tidak ada manusia yang tega melihat anak kucing mengeong kelaparan

katanya, besok kiamat
aku tak tahu kebaikanku bentuknya seperti apa
dan bau busuk dosaku belum tercium
kita semua berada pada dimensi yang sama
ilusi
seolah semua hal indah
padahal cantikmu itu disantap oleh waktu

PILIH BH UKURAN 36B ATAU ISI BH UKURAN 36B?

Hidup akan sangat sia-sia dan melelahkan
bila hanya menguras pikiran
untuk urus bungkus saja 
lalu mengabaikan isi nya

maka bedakanlah
apa itu bungkusnya
dan apa itu isi nya

rumah indah hanya bungkusnya
keluarga bahagia itu isi nya

pesta pernikahan hanya bungkusnya
cinta kasih dan tanggung jawab adalah isi nya

kekayaan itu hanya bungkusnya
hati yang bahagia itu isi nya

makan enak itu hanya bungkusnya
gizi, energi dan sehat itu isi nya

kecantikan dan ketampanan hanya bungkusnya
kepribadian dan hati itu isi nya

bicara itu hanya bungkusnya
kenyataan itu isi nya

buku hanya bungkusnya
pengetahuan itu isinya

jabatan hanya bungkusnya
pengabdian dan pelayanan itu isinya

pergi ke tempat ibadah itu bungkusnya
melakukan ajaran Islam itu isinya

kharisma itu bungkusnya
karakter itu isinya

rezeki itu hanya bungkusnya
berkah itu isinya

utamakanlah bukti
tanpa banyak janji

utamakanlah bahagia
tanpa harus kaya

utamakanlah 'sah'
tanpa memaksakan diri untuk indah

utamakanlah isinya
tanpa lupa merawat bungkus dengan baik

maaf jika anda mencari BH nya
kan ku bilang, utamakan isinya
bukan judulnya

>Emha Ainun Nadjib

akhir

kenapa kalimat cinta ditemani kalimat jatuh
apakah ada jatuh yang tidak menyebabkan sakit?

salahku, semua ini awalnya salahku
karena membolehkanmu masuk ke hati
tinggal serta nyaman disana
padahal ku tak sadar
bahwa bisa kalajengking baru saja ku anggap air segar oase

'SEMUA WANITA SAMA SAJA BANGSATNYA!' Teriak salah satu pendemo zaman megawati.
kalimat itu jahat jika diberi kepada istri para nabi
kalimat itu baik jika melihat keadaanku sekarang

iya, sekarang
bisakah kau menoleh sedikit kepada pedangmu yang masih terhunus ini
kalimat indah dan janji cinta
itu semua menari di kepalaku
membuat simfoni indah dan tak ingin berhenti
sudah berjuta cara ku usahakan menghentikannya
apalah daya manusia mencari ujung pelangi

tapi cobalah kamu tengok
betapa hancurnya aku hari ini
pedangmu lah penyebabnya
semudah itu kau lempar madu ke lautan lalu kau bayar dengan penghianatan

salahku karena telah menganggapmu penghuni hatiku
padahal kau hanyalah sebilah kisah tuhan yang diciptakan untuk lelaki lain.

Apa itu surga?


Aku tak pernah percaya bahwa kau ada
Jika kau benar ada
Maka beritahu padaku
Di peta dunia sebelah mana kau tinggal

Aku percaya bahwa alamat surga itu ibu
Amarahnya adalah irama indah
Menari-nari di telingaku
Terulang tanpa henti
Ku harap itulah yang menemaniku saat ku sendiri
Di kegelapan kubur nanti

Banyak kawanku takut neraka
Maafkan aku wahai neraka dan segala kegarangannya
Ku yakin api mu akan padam oleh senyumnya
Iya, senyum ibu

Kawanku, takutlah jika ibumu hari ini tidak bahagia
Surgapun akan tertawa
tiap kau meminta izin mampir

Jika kau bertanya umpama
Maka jawabku sederhana saja
kau bagai ingin masuk surga tapi enggan mati

Awan & Kiona


Awan, pernahkah langit menolak keberadaanmu?
Cuma matahari yang berani mengusirmu
Tapi terkadang kalian justru saling bercumbu
Melahirkan seorang anak
Tidak silau
Kata orang, itu namanya

Kadang kau hitam acuh tak acuh
Sekali-kali kau juga bening cerah laksana embun pagi
Tapi acuh mu menghasilkan hujan untuk petani demi sepetak padi
Juga terkadang cerahmu membakar pengembala tanpa perduli

Kiona
Bahagiamu adalah bahagiaku,
Tenang saja
Aku tak akan mengganggu
Kamu bahagia dengan jalan ceritamu sendiri
Akupun sama

Jangan saling membenci
Sebab kita pernah saling membahagiakan satu sama lain, bukan?
Terimakasih atas waktumu


Kamu tetap menjadi awanku
Sampai nanti,
Aku pamit.

pekerjaan bergaji tinggi?

Kiona, itu adalah nama terindah yang pernah terdengar telingaku.
Indah nama, beda cerita. Kiona hanyalah anak yatim biasa. Ayahnya sudah tiada.
Kata dokter, rokok lah pembunuhnya, dokter lupa kalau manusia itu punya kemampuan bernama hawa nafsu.

Hari ke hari, Kiona hanya menjalani hidup bersama Mama nya, Hera.

Hera adalah ibu yang baik, belum pernah seharipun aku mendengarnya mengeluh butuh suami kalimat pujian ketus dari salah satu tetangga Hera.

Kiona hanya merindukan ayahnya, tiap malam Kiona berteriak dalam bisu
air mata menjadi teman setia Kiona
bagi Kiona ayahnya adalah teman terbaik

Seringkali Kiona mengutuk Hera dan menyalahkannya akan kematian ayah
tentu semua itu bukan sepenuhnya salah Hera, Kiona pun salah
Kiona tidak mau berdamai dengan dirinya sendiri
dan Hera patah hati, tiap kali melihat keluarga si ayah
dia cenderung menjauhi mereka

Kiona membenci Hera
berjalannya waktu, kebencian itu makin meluap karena Hera menjauh dari patah hatinya
iya, keluarganya, Hera anggap keluarganya adalah ranting dari patah hati itu
padahal akarnya adalah Hera itu sendiri
Waktu telah menipu Kiona, membuat Kiona lupa
bahwa tujuh belas tahun lalu Kiona tidak punya otot kuat untuk berjalan
gigi kokoh untuk makan
bahkan Kiona menyedekahkan kotorannya kepada Hera

Waktu tidak pernah menolong Kiona, bahkan tidak pula menyulitkannya
Waktu hanya menonton sampai tertawa
terkadang Waktu menangis
meminta kepada Tuhannya untuk diizinkan menolong Kiona

hingga tiba Waktu menyaksikan kedatangan seorang Peri mimpi
Waktu pun bertanya 'kenapa bentuk mimpi ini begitu aneh'
Peri mimpi memberi isyarat melalui telunjuk yang diletakkan dibibirnya
akhirnya Waktu pun mengerti bahwa dia harus bisu, seperti perintah Tuhan

Kiona bermimpi
tentang dirinya yang jatuh miskin, tanpa keluarga sama sekali
Hera dan ayah Kiona sudah tiada
hari harinya diisi oleh air mata dan cemas
Kiona ketakutan karena pagi ini hanya sarapan air mata
perut kecilnya terisi oleh teriakan lirihnya
iya, angin lah yang membuatnya kenyang

sampai tibalah dia berkeinginan untuk mencari pundi-pundi rupiah
kota menjadi tujuan utama
tanpa membaca dan perduli bekerja apa
Kiona memasuki bangunan tinggi yang berlapis marmer
lantai terbuat dari kaca
dan ada ribuan ikan penuh warna di bawahnya
pintu bertabur permata menyapa Kiona di bagian depan sebuah ruangan

'mungkin disinilah aku akan dapat yang ku mau' gumamnya,
masuklah ia tanpa memikirkan apapun
Kiona datang di ruangan yang dia pun tak tau itu dimana
sudah ada meja kayu mewah
beberapa buku tebal berserakan diatasnya
dan tak jauh dari meja serta bukunya, ada sosok hitam sedang membaca buku tebal lainnya

"Apa keperluan anda, anak kecil?" tanya sosok berjubah hitam, seolah sudah tau kedatangan Kiona

"a.. aku ingin bekerja disini" Jawab Kiona

"Apa anda punya keahlian?"

"mmhhmm, aku bisa mempromosikan kantor ini melalui popularitas dan kecantikanku!" Jawabnya dengan percaya diri

"Saya tak butuh itu!"

"ah? Tapi aku bisa membuat perusahaan ini menjadi lebih terkenal di mata dunia"

"Saya tak butuh itu!" lanjut sosok hitam "enyahlah anda dari sini!"

"...t.. tapi.. tolong terima aku tuan, aku rela bekerja apapun asalkan perut kosongku bisa terpuaskan"

sosok berjubah hitam pun hanya pergi dari Kiona, kembali lagi sambil membawa buku putih yang bercahaya, seraya bertanya "maukah kamu ku gaji sekantung emas tiap menit?"

"tentu!" lanjutnya "tapi apa pekerjaanku begitu berat?"

"dengarkan baik-baik, anda akan menjadi
seseorang yang bekerja tanpa libur
tanpa izin pulang tanpa izin sakit
anda harus bisa membuat obat-obatan ketika ada yang sakit
memasak makanan, membersihkan ruangan, jangan pernah marah
emosi bahkan memamerkan air mata, jika anda lelah
maka tersenyum, hanya itu yang bisa anda lakukan ketika lelah" jawab sosok jubah hitam

"Mohon maaf tuan, bukannya aku tidak sopan. Memangnya kerjaanku itu apa , ya?"

"Menjadi seorang ibu"

Kiona tersentak lalu bangun dari tidurnya, terlihat bantalnya basah air mata
bangunpun air mata Kiona masih bersemayam di kelopak mata
tanpa memperdulikan penampilannya, Kiona lari mencari Hera
tidak ada yang terpikirkan di benaknya kecuali paras ibunya itu
ditemuinya, Hera sedang memasak di dapur
Kiona memeluknya dengan baju tidurnya
Hera pun kebingungan, tapi Kiona terus menerus memeluknya sambil meminta maaf

Dari kejauhan Peri mimpi tersenyum bersama waktu
mulai hari itu, Peri mimpi dan waktu setuju
kalau menjadi ibu
adalah pekerjaan sepanjang masa.

Tiga Puisi Untuk Kiona #3

Penyesalan pun tiba mengetuk pintu
memaksa masuk seolah dia sudah ku undang
sekarang,
penyesalan sedang bersamaku
meski sudah ku usir,
tapi dia jawab dengan amarah
'aku datang kemari karena kau memaksaku datang
kenapa sekarang kau memaksaku pergi!'

Kiona
terimalah maafku
jangan pernah kau tanya seberapa besar rasaku padamu
jangan pernah kau coba menghitung pasir di Sahara
karena keduanya percuma
kuizinkan kicauan burung menyampaikan salamku padamu
hembusan angin pagi, ku anggap itulah jawaban salam darimu


Tiga Puisi Untuk Kiona #2

Aku tersesat dalam diriku sendiri
salahku karena merelakanmu pergi
sejujurnya,
aku ingin  mengajakmu bicara sampai larut
menonton indah senyum tipismu
memelukmu hingga nyawaku melarangnya
tapi ku tak bisa,

inginku melarang pergimu
namun apa daya, api tidak bisa melarang kayu untuk jadi abu
meski api masih ingin bersamanya.

Tiga Puisi Untuk Kiona #1

Kiona, indah parasmu
Raja mana yang tidak tunduk akan itu
ku yakin mereka akan bersujud demi kecantikanmu
pelangi pun malu menampakkan keindahannya
angin berhembus hanya untuk membelaimu
kadang ku berpikir tentang betapa irinya bidadari akan semua itu

apakah aku layak untuk semua itu?

tulang rusuk?

"aku sudah pernah merasakan semua kepahitan, tapi yang paling pahit adalah berharap kepada manusia" sahabat nabi, Ali.

tajamnya kalimat itu menusuk bagai anak panah dari kejauhan.

seperti baru saja ada ribuan taring ular tertancap di dadaku.
---
sikapmu merusak rasa yang ku bangun bata demi bata.

dan kamu membawa palu derita,  menghancurkan menara rasaku

sambil tertawa seraya berkata 'cintamu tiada harganya!'

bukan hanya hancur, tapi rasaku sudah nihil kemungkinan untuk dibangun kembali
---
'Rumaysho, aku ingin menjadi suamimu!' teriak Amiek, tapi Rumaysho hanya cerita masa lalu yang belum tentu Tuhan membuatnya untuk kedua kali
---
inginku memintamu untuk bersamaku, tapi apa daya, aku hanyalah si tolol yang kosong akan pengetahuan.

iya, benar, tolol.
karena kebohonganmu saja tak ku sadari.
---
seharian ku hanya teriak dalam sunyi
menangis tersedu dalam bisu
marah dan cemburu tak bersuara

orang sekitarku bertanya aku kenapa, hanya senyum palsu yang kupamerkan sebagai jawaban
---
aku iri pada Adam
lelaki yang belum pernah patah hati karena pujaan hati
dan Hawa
hadir ke dunia ini sebagai tulang rusuknya
betapa bahagia
---
Aku
anak Adam yang telah menjual jiwa dan hatinya kepada wanita yang tak perduli betapa aku mencintanya
---
hilang arah
tulang rusukku tidak jelas dimana
dan hari ini
sakit rasanya ketika aku tau tulang rusukku bukanlah dia
---
Tuhan, aku punya pesan untukmu
sadarkanlah jiwaku
dari malapetaka wanita
---
ku pikir telah meminum secangkir anggur cinta dan mabuk bersama orang yang benar
ternyata tidak
---
cinta buta, kalimat itu benar adanya

kamu, tulang rusukku
dimana kau berada?

Poligami



Life is only once, your life partner too.
hidup cuma sekali, pasangan hidupmu juga.

Salah satu tulisan yang terlihat dari baju anak muda yang antre di depan Amiek.
Perkenalkan, Amiek, lelaki umur sembilan belas tahun yang pola pikirnya terlampau jauh dari manusia seumurannya, disaat teman-temannya berpikir untuk kalimat romantis di sosial media, Amiek justru sudah jauh berpikir, dia--Amiek hobi diam dirumah bersama Mama, tiap malam memijat kakinya, sesekali curhatan hati Mama nya terdengar

"Mama ingin kamu punya istri yang bisa faham cara urus rumah, bukan cuma faham urus dandan"

Mendengar lontaran itu dari Mama nya, Amiek tertegun dan berkata dalam diam.
Memangnya wanita baik itu ciri nya apa

Amiek menyeleksi teman wanita nya lewat kepala nya sendiri,
Dian, wanita pemalu yang tidak banyak bicara, biasanya Dian memakai kerudung panjang rapi tanpa cadar, Dian cuma liburan ke toko buku atau ke tempat sepi lainnya, bukan sombong, tapi memang Dian menolak keramaian, tapi Amiek pernah melihat Dian tertawa kencang karena mendengar gosip hangat dari temannya, Amiek pun sadar bahwa wanita baik bukan hanya dinilai dari hijabnya.
Ayu, wanita jawa periang yang pintar dan supel, jago berpresentasi makalah apapun, Amiek pun pernah jatuh cinta pada cara Ayu membenahi kerudung setengah syar'i nya, sederhana tapi menarik, bahkan tiada kalimat yang cocok untuk menjelaskan keindahan itu. bagi Amiek, Ayu adalah wanita baik untuknya, namun ketika Amiek menyaksikan Ayu menangis tersedu hanya karena hal sepele. Amiek sadar bahwa Ayu mengkhianati sifatnya sendiri.
Ara, berkarakter jepang, cantik dan berponi, namun bukan hanya itu yang Amiek cari, Ara cukup tidak konsisten dalam bersikap, kadang Ara diam kelabu, kadang juga ceria penuh warna, tapi karena Amiek bodoh, Amiek tidak memperdulikan semua itu. Amiek pikir hidupnya lima puluh tahun kedepan akan bahagia bersama wanita tanpa hijab tapi bergaya jepang itu. ternyata palsu, karena Ara patahkan konsistensi gaya jepangnya untuk seorang artis barat, Greyson Chance, bukan salah artis baratnya, salah Ara. Kenapa dia berbohong dengan dirinya, tunggu, atau ini semua salah Amiek, egois dengan prinsipnya?

Dalam satu sesi, Amiek sedang memijat kaki ibunya, Amiek memberanikan mulutnya untuk bergerak. Dan mulut pun menyetujuinya, "Ma, poligami itu kenapa ya--"

"Kenapa kamu harus bertanya seperti itu?" Mama, memotong.

"Maksudnya, kenapa poligami itu harus seratus persen tentang menjaga perasaan, padahal kan tidak ada salahnya ngobrol bertiga bersama-sama"

"hei biarpun bapakmu dulu susah, bapak susah bareng Mama!" lanjutnya, "Masa tiba-tiba ada orang lain menikmati kesuksesannya!"

Amiek pun diam, dengan dua alasan dan satu pertanyaan.
alasan pertama, Amiek takut dianggap bahwa Amiek adalah tim sukses agar bapak nikah lagi, alasan kedua Amiek sadar bahwa wanita baik itu bukan distandarkan dari seberapa ramah pembawaannya,  jepang prinsipnya pun tak membuat wanita itu jadi wanita baik, begitu pula kerudung panjang, jika itu membuat wanita menjadi merasa suci, mereka lupa, bahwa ada cacing tanah menunggunya.
pertanyaan ---
lalu, seperti apa wanita baik itu?